Rabu, 26 Maret 2014

Menghilangkan Bau Lemari

Hehehe... Postingan kali ini tentang lemari. Punya lemari baru yang sesuai budget dan design yang diinginkan memang harus pesan khusus. Hal itu membutuhkan waktu cukup lama. Bisa hingga sebulan. Beda lagi bila membeli sesuai stock toko meubel bersangkutan. Selama saya jadi anak kos dan menikah, akhinya hanya memakai lemari knock down yang terbuat dari papan partikel.

Semula kami memilih yang bermerk cukup terkenal. Tapi tetap saja papan partikel dengan densitas tinggi pun tetap kalah dimakan waktu bila bersaing dengan lemari kayu asli. Apalagi anak balita saya suka sekali main di dalam lemari. Kebetulan sulung saya berbadan bongsor. Berapa kali tertendang, akhirnya setelah beberapa tahun rontok juga.

Saat kami butuh lemari baru, pas banget dengan kondisi keuangan lagi mepet. Bersamaan dengan mengumpulkan down payment rumah. Weww.. Akhirnya kami membeli lemari dua pintu murahan yang juga terbuat dari papan partikel. Namun mutunya kurang bagus. Plus wanti-wanti ke baluta saya yang beranjak besar agar tidak bersembunyi dalam lemari. Saya beri penjelasan yang dapat dia terima. Alhamdulillah lemari bertahan selama 3 tahun.

Akhirnya kami memutuskan membeli lemari kayu pesanan khusus. Sebenarnya bukan pesanan khuSus yang bergaya gimanaaaa gitu. Atau Ukuran khusus segedhe gaban? Bukan juga. Kami hanya memesan lemari biasa tanpa banyak ukiran yg kebetulan sedang tak ada stok di toko tersebut.

Ternyata  tak cuma masalah menunggu lemari jadi. Masalah lain ada saat lemari jadi dan dikirim ke rumah. Baunya menyengat bukan kepalang. Baunya membuat kami terbatuk saat tak sengaja menghirupnya. Rasanya tenggorokan gatal dan tercekik. Mata kami pun pedas dan perih. Hal ini terjadi bila cat yang dipakai untuk melapis kayu lemari berpencair tiner.

Saya telpon toko meubel. Mereka hanya menyarankan untuk dikipas dan dibiarkan terbuka. Pas saya tanya berapa lama, dia jawab sebulan! What? Akhirnya kami terpaksa camping di ruang tamu. Kemudian atas saran beberapa teman untuk meletakkan bubuk kopi.  Browsing internet isinya meletakkan bubuk teh, garam, dan air bercuka.

Setelah saya pikir dengan otak mungil saya, akhinya saya putuskan untuk meletakkan arang sebanyak mungkin. Secara Kan arang menghisab bau. Alhamdulillah setelah satu setengah minggu bau tak enak segera pergi.

Letakkan kertas koran di masing- masing rak dan diatasnya diberikan Arang kayu atau batok kelapa. Just that! so simple isn't it? Jadi, saya persilakan memakai arang untuk menghilangkan lemari atau ruangan bau cat. semoga tips ini berguna. aamiin

Rabu, 15 Januari 2014

Mana Pilihan Kamu : Kompor atau Kulkas

Hehehehe... bukan,ini bukan sedang menawari kalian untuk membeli kulkas atau kompor dagangan. Lha iya. aku belum menjadi pedagang alat rumah tangga. Pengennya sih iya. Tapi modalnya kan kudu besar. Eh.. ini juga bukan nawarin hadiah lho. Lha aku sendiri cuma punya kompor satu, dan kulkas satu pintu satu. itu juga beli dari jaman jebot. Alhamdulillah, keduanya dikasi awet. Ini tentang curhatanku. ^_^

Ini tentang pilihan sikap saat dicurhati entah teman, tetangga, atau sodara. Kalian milih menjadi kompor meleduk yang makin membakar emosi, atau justru menjadi kulkas yang ngademin? Kalo aku... sepanjang ini masih bercita-cita menjadi kulkas untuk curhatan sahabatku. tapi... ya itu. seringkali masih terseret arus emosi teman. Merasanya kompor itu adalah bentuk solidaritas teman. E... jangan salah tapi yak. Sesekali aku sangat menikmati menjadi kompor, terutama untuk urusan positif. Nyemangatin gitu deh ceritanya. Hehe..

Sebenarnya apa sih yang dibutuhkan seorang teman yang curhat? terutama masalah yang berkaitan dengan emosi. Sependek pengetahuanku sih, ya dukungan. Namun, dukungan seperti apa yang sesungguhnya mereka butuhkan? Bila kalian tanya langsung ke si pemilik masalah, pastilah jawabannya beragam.
"Loe bantuin gue gamparin dia napa?" atau...
"Bantu gue buat nggak nyapa dia lagi..." atau..
"Gue cuma butuh loe sebagai 'tempat sampah'.."
"Gue cuma butuh tepukan menenangkan.."
atau entah apa lagi.

Tapi sungguh, dibalik semua masalah itu, yang dibutuhkan teman yang sedang curhat adalah solusi dari permasalahannya. Bukan untuk memperunyam masalah. Mereka butuh didinginkan kepalanya agar hati tak terbakar emosi, sehingga mereka mampu berpikir jernih dalam menganalisa masalah yang ada dan menemukan solusinya.

So, apa saja yang kira-kira diperlukan?
1. Dengarkan. Luangkan waktumu sejenak untuk mendengarkan curhatan mereka. Itu adalah bentuk dukungan mendasar bagi orang yang ingin curhat.

2. Dinginkan. Jangan membakar emosi yang telah terbakar. tak ada gunanya. Kemungkinan yang ada adalah memperunyam masalah. Bahkan bisa jadi diri kita sendiri ikut terlibat dan dibelit masalah. Berkata-katalah yang baik. Bantulah untuk menenangkannya. Jika dia menangis, berikan entah tissue atau sapu tangan. Ajaklah duduk, mengambil nafas panjang, dan berikan air putih. Bila masih merasa emosi setelah sesi curhat dan lain-lain, ajaklah membasuh muka atau berwudhu. kemudian sebut nama Tuhan atau istighfar.

3. Bantu menemukan solusi sepanjang kita bisa. Tergantung permasalahan yang dia hadapi. Bila perlu bantu mencari bantuan pihak berwenang bila menyangkut keselamatan.

4. Terkadang setelah curhat, mereka hanya butuh untuk sendiri.

5. Ada yang mau nambahin? ^_^

Tapi tau nggak, sering kali kita sendiri sulit menemukan teman curhat terpercaya. So, what we have to do? Kita kan punya Tuhan, Allah adalah tempat curhat sebaik-baiknya. Curhatlah dalam doa-doa yang panjang, sujud-sujud yang dalam, dan Allahlah tempat terbaik kita berharap.

 
 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

#mari berbagi mutiara hikmah. insyaallah berbagi mutiara ini tak akan rugi dan makin banyak.

Rabu, 08 Januari 2014

Liburan Sederhana Naura

Bagi Ola, panggilan sehari-hari Naura, liburan yang baru berlalu memang mungkin tak seasyik biasanya. Maklum, liburan kemarin adalah liburan pertamanya semenjak ayahnya tugas di luar negeri. Ola dekat dengan ayahnya. Biasanya, saat ada ayahnya, semisal tak bisa bepergian hingga ke luar kota, dia bisa diajak kesana kemari dari jalan-jalan di lingkungan Universitas Indonesia, atau berenang.

Tapi sebagai mamanya, saya tetap ingin menjadikan liburan Ola sebagai liburan yang menyenangkan juga. Bukan dengan cara yang sulit. Toh cara sederhana pun Ola menikmatinya.

Kegiatan pertama, berenang di rumah  saat hari cerah. Ups..bukan kolam renang sungguhan. Hanya kolam renang plastik. Airnya juga nggak terlalu penuh. asal bisa main air dengan menyenangkan saja. Sekitar jam sembilan pagi, saat matahari sudah cukup tingginya dan cuaca tak lagi dingin. Sebelumnya tentu telah sarapan dan minum susu. Jeda antara satu hingga dua jam. Diawali lari kejar-kejaran dengan adeknya yang baru bisa jalan. Sekitar satu hingga dua jam kemudian, dia harus menyudahi kegiatan menyenangkan itu.


Kegiatan kedua bermain bareng adiknya, Dedek Keen, meski dia baru berusia satu tahun 3 bulan, Keen sudah lumayan asyik diajak Ola bermain. Biasanya diajak main "masak-masakan" atau toko-tokoan. dan biasanya bila bermain toko-tokoan, kakaknya sebagai penjual, dan adeknya sebagai pembeli. Yang dijual bisa bermacam-macam. sesuai stok mainan yang diperbolehkan mama buat digelar. Satu kejadian lucu saat kakak Ola ingin beneran berjualan. dia mengambil beberapa sachet saus sambal, beberapa sachet saus tomat, dan beberapa sachet persediaan tissue disinfektan air galon. dia menggelar dagangannya di atas kursi plastik mini kepunyaannya didepan rumah. tapi tak ada yang yang membeli meskipun orang lewat depan rumah. ketika saya tanya bagaimana cara dia menawarkan dagangannya, dia menjawab, "kakak bilang 'jual..jual...  jual..jual...". itu membuat mamanya senyum simpul. Aku menyarankan, bila besok lagi ingin menawarkan dagangan agar berkata,"beli..beli.. silakan dibeli...saus..sambel.. tissue.."

Kegiatannya yang lain adalah ngemall secara asyik. Eh.. kok ngajarin konsumtif. Hehehehe.. nggak kok. Dia ngemall karena ikut mamanya untuk belanja bulanan. Kebetulan, ada arena asyik selama liburan Desember kemarin di Margocity. di main atriumnya berdiri tinggi dan kokoh tower dari bambu, dan dijadikan arena bermain anak. ada labirin, jembatan kecil, trampolin, panjat tower, panjat dinding, titian bambu tinggi, dan flying fox. Ola mencoba semuanya. Sebenarnya, saya sebagai mamanya sempat tak rela anak saya memanjat tinggi-tinggi. Namun setelah Ola keukeuh sumekeuh pengen manjat, dan setelah saya wanti-wanti panjang lebar untuk berani dan berhati-hati, akhirnya saya ijinkan. Saya pikir, bagus juga buat mengasah mental Ola.


Selain itu ada beberapa booth ketrampilan anak, seperti ketangkasan menembak dengan paint ball, meronce manik menjadi aksesoris, melukis layang-layang, melukis caping, membatik, membuat ornamen hiasan dari kancing baju. Ola memilih meronce manik-manik menjadi kalung dan gelang, karena Ola suka dengan aksesoris.






Kegiatan lain selama liburan, tantu saja membuat kue sederhana atau memasak sederhana. biasanya untuk membuat kue, saya membantunya saat memasukkan adonan ke dalam oven. Ola belum berani. Hasilnya lumayan enak. sembari memasak, sembari belajar menimbang dan membaca resep. meski masih terbata-bata cara membaca dia. maklum, Anak prasekolah yang tak terlalu saya dorong untuk membaca. sepertinya belum muncul minat bacanya. Hehehehe...








mufiin buatan Ola






gaya garang setelah lelah berbelanja alat lukis. ^_^



Kegiatan dia lainnya adalah melukis. Biasanya Ola melukis dengan Crayon atau pensil warna. Dan liburan kemarin dia ingin mencoba melukis dengan cat poster. Ah, namanya juga anak-anak dan masih belum terarah. maklum, nggak saya ikutkan sanggar lukis. Jadi lukisannya juga belum bagus. Yang penting dia enjoy menikmati liburannya.







Satu lagi kegiatan selama liburan yang hampir sama dengan kegiatan saat tidak liburan, tetap belajar sholat, belajar iqro, les calistung untuk persiapan masuk SD, main sepedaan, dan mainan game tablet. Tentu mainan boneka dan aneka mainan lain tak terlupakan.

Tips mengisi liburan anak yang murah dan menyenangkan:
1. Lebih baik menghindari pusat perbelanjaan a.k.a Mall. Sesekali bolehlah, jangan sering-sering. Karena selain mengajarkan konsumtif, di Mall itu banyak godaan, baik buat anak, maupun buat mamanya. heheheh...

2. Carilah informasi mengenai liburan menyenangkan yang sesuai minat bakat anak. Semisal anak suka masak, boleh tuh kursus sehari belajar membuat cupcake. bila anak suka dengan ketrampilan kerajinan, boleh juga di ajak kursus membuat clay hiasan. Atau boleh juga belajar keramik. Bila anak anda hoby melukis, tak ada salahnya diikutkan sanggar. Atau hoby musik? atau hoby menari? modeling?banyak pilihan.saat ini marak writing camp. selain asyik berpetualang di alam terbuka, juga diajarkan menulis asyik.

3. Jadi mama kreatif yang asyik. Pergunakan apa saja yang ada di rumah atau sekitar rumah sebagai alat dan bahan kreatif.

4. Libatkan anak untuk belajar membantu pekerjaan rumah. Tentu saja yang mudah dilakukan.

5. Ajaklah berolah raga ringan, entah lari pagi, senam, bermain hollahop, jalan pagi, atau berenang.

6. Ajarkan bersilaturahmi. Boleh ke tetangga dekat, teman sekolah, atau ke sanak sodara. Ajak mereka berkunjung dan membawa buah tangan.

7. Ajaklah dia berkunjung ke kebun binatang, taman kota, atau museum terdekat.

8. Buat anak yang ingin petualangan lebih, boleh tuh diajak keliling kota dengan moda transportasi umum. mencicipi Busway, commuter line, andong, dokar, cikar, becak. apa saja. Tapi bila alat transport tradisional, jangan terlalu jauh. Mahal.hehehe...

9. Main di sawah, asyik tuh, cari belut, cari bekicot atau keong atau berudu untuk diamati perkembangannya, atau cari ikan cupang buat dipelihara. Adanya kebun? boleh aja.

10. Camping di halaman rumah juga asyik.

Berikut ini ide mainan sederhana tapi asyik:
a. Ajak dia membuat clay sendiri 
resepnya:  menurut versi saya (bikinnya saat itu udah sore,pakainya bahan2 yang ada dirumah aja) :

BAHAN :
a. tepung terigu 2 sendokr
b. tepung tapioka 2 sendok
c. tepung beras 2 sendok
d. air secukupnya
e. minyak goreng sedikit biar elastis
f. pewarna makanan

CARA BUAT
a. Campur tepung kemudian diayak
b. Campur tepung dengan air sedikit demi sedikit kemudian uleni hingga rata dan kalis
c. campur clay dengan warna yang diinginkan, kemudian aduk sampai merata. kemudian diberi minyak dikit,adonin hingga kalis rata.
d. siap pakai untuk aneka kreasi bentuk.

b. Belajar kreasi kerudung.
Untuk mama yang mempunyai anak perempuan, coba diberi kesempatan mencoba aneka kerudung koleksi mama beserta aksesorisnya. Persilakan dia berkreasi dengan kerudung mamanya sesuai imajinasinya.Boleh juga dijadikan rok atau baju dengan bantuan pita. ^_^.

c. Membuat engrang kaleng atau bambu.
Membuat engrang bambu sih perlu bantuan orang tua karena melibatkan menggergaji dan memalu.
membuat engrang kaleng atau batok kelapa lebih mudah. lubangi sedikit bagian bawah kaleng/batok kelapa dari kelapa yg dibelah dua, kemudian sambungkan dengan tali. ujung-ujung tali diberi ikatan simpul agar tak lolos lubang kaleng/batok kelapa. siap digunakan.

d. Membuat mainan dari pelepah pisang.
Pelepak pisang untuk kuda-kudaan, senapan, pedang, dan bendera. yiiihhaaa.. jadi cavalery.

e. Membuat mainan dari kulit buah.
Semisal dari kulit buah jeruk bali, jadi mobil-mobilan, kulit manggis yang diambil sarinya jadi jely-jelyan (baru akhir-akhir ini tau kulitmanggis berkhasiat.hehehe..)


f.gasing buah kelapa yang masih kecil.
tinggal ditambahi buluh batang bambu dan diberi tali..jadi deh gasing.

g.Origami
origami tak harus pake kertas beli bunda.bisa pake kertas brochure yang biasanya dibagikan gratis di mall.hehehe..hemat kan.

h.Manik2 kertas.
dengan sedikit kreativitas,bisa bikin manik2 kertas untuk kalung mainan yang kita rangkai sendiri ataupun gorden manik2.kertasnya pun bisa dengan kertas bekas calender atau kertas brochure.:D.

i. Membuat layang-layang sendiri.
masih ingat kan caranya. tentu butuh bantuan ortu nih.

j. Menggambar dengan tindasan daun atau stempel pelepah pisang serta irisan lintang buah belimbing muda..
caranya bisa dengan tindas kertas diatas daun yang urat daunnya menghadap ke atas, kemudian menggunakan crayon/pensil warna untuk mengarsir.hasilnya  urat daun akan tercetak di kertas. sedangkan pelepah pisang dan buah belimbing yang diiris melintang, bisa jadi stempel untuk menggambar dengan dicelup warna.bisa menggunakan pewarna makanan ataupun cat poster/cat air. susunlah cap/stempelan membentuk bunga atau daunnya. untuk efek cat semprot, bisa digunakan sisir dan sikat gigi bekas. celupkan sikat gigi pada pewarna, kemudian dengan posisi diatas kertas, gosok2kan pada sisir.

Semoga bermanfaat.

Rabu, 20 November 2013

Henna

Henna. Itu lho yang buat bikin "tatoo" temporer. Karena Ola anak pertamaku pengen pakai kuteks udah dari lama, tapi aku nggak bolehin. Karena kuteks biasa gak bisa ditembus air wudhu. Akhirnya aku belikan henna aja. Untuk menghasilkan warna orange lembut, memakainya setelah aplikasi di kuku didiamkan sebentar saja. Kalau kelamaan, warnanya jadi makin gelap.

Nha, sisanya dipakai samamamanya buat iseng bikin tatoo temporer ala pengantin. Ternyata design henna cantik2 lho. Tapi hasil contekanku masih belum begitu rapi. Di bawah ini nih hasil oret-oretan asalku ke kulit. Hehehe...





Sabtu, 16 November 2013

Mengenang Almarhum Ibu : Vonis Itu tak Terkabul



Tulisan ini pernah disertakan dalam audisi Biru - Sabar Hingga Akhir Waktu. Namun tulisan saya ini masih jauh dari standar yang diharapkan. Kisah Nyata ini terjadi sepuluh tahun silam. Ibu seperti mendapat bonus umur 10 tahun dari Allah. Kesabaran kakakku bersama suaminya semoga dibalas ganjaran surga Allah. aamiin. Dan air mataku mulai menitik lagi. sekarang, doa kami anak cucumu yang menemanimu, bu. 

ibuku tercinta

Malam mulai larut, namun mataku yang memang telah pedas tak mau terpejam juga. Bergantian aku dengan kakak menjaga ibu yang baru saja siuman dari komanya. Ku biarkan saja Mbak Etty, kakakku persis, anak ke 6 dari 7 bersaudara dalam keluargaku, itu terlelap. Dia benar-benar letih. Wajahnya terlihat pucat, namun pada raut wajah cantiknya yang letih tak lagi tergurat kekhawatiran.

Tidak seperti dua hari yang lalu saat ibu masih terbaring koma sudah selama sepuluh hari dirawat di ruang “Unit Rawat Intensif”. Wajahnya yang pucat keletihan terlihat sangat gusar sehabis berkonsultasi dengan dokter. Aku yang kala itu melihat raut mukanya, langsung seperti tersetrum kekhawatiran darinya. Aih, apa yang bakalan aku dengar. Dadaku berdegup sangat kencang. Bahkan desiran darahku seperti terasakan di permukaan kulit. Dia menghampiri kakak-kakakku yang lain, berbicara sebentar. Entah apa yang membuat kakak kedua menitikkan air mata. Sepertinya aku dapat meraba isi percakapan mereka, vonis dokter. Dan merekapun bersama-sama mendekati aku yang tengah duduk di lantai teras gedung ICU. Rasanya aku ingin berlari saja saat itu. Kekhawatiran yang terlalu keras mencengkeram otak membuat aku melihat mereka seperti monster yang akan menerkam dengan kesedihan yang dalam.

Kakak nomor duaku, mbak Tuti menggamit bahuku. Di pegangnya kencang badanku dikelilingi saudara yang lain. Mbak Etty mendekat ke arahku.
“sabar ya Nan, kamu harus tabah dan ikhlas. Baru saja dokter mengabari Mbak Etty bahwa kita harus siap mental bila saja ibu dipanggil Allah.” Mbak Etty berkata pelan.
Seketika itu aku berontak dari pelukan kakak dan dengan marah aku berkata,”nggak mau. Aku nggak mau ibu meninggal. Aku udah minta ama Allah. Nggak mau.”
Aku pergi dengan sangat gusar dengan pipi yang telah berlumuran air mata. Kubanting-banting saja kakiku sepanjang koridor rumah sakit yang sepi itu menuju masjid. Tak peduli pada gosip menyeramkan tentang lingkungan rumah sakit. Yang ada dalam pikiranku saat itu, bila saja ada hantu yang hendak mengganggu akan aku gigit dan cerna saja lumat-lumat. Aku tak sadar, mungkin saja hantu itu kini tengah bersarang dalam otakku, mengacaukan rasio, membakar emosi, menghilangkan iman. Betapa ibuku adalah milik Allah, yang bila sewaktu-waktu Allah menghendaki, beliau akan dipanggil. Sungguh, aku hanya manusia egois yang beberapa tahun lalu baru kehilangan bapak, dan aku belum rela bila harus digenapkan dengan kehilangan ibu. Aku merasa belum siap menghadapi dunia ini sendirian.

Memang aku tahu, ibu sebagai penderita diabetes mellitus, sangat rentan terhadap stroke. Dan itu terbukti saat subuh hari sehabis sholat ibu ditemukan pingsan di dapur oleh kakak laki-lakiku. Segera saja ibu dilarikan ke rumah sakit dan masuk ICU. Kemarin-kemarin, secara bergantian kami menunggui ibu, dan mengajak ngobrol ibu yang tengah koma.

Tapi saat giliran aku yang harus mengajaknya ngobrol dan memegang tangannya, yang ada mulutku terasa kering. Air mata menggenang dipelupuk. Ingin menangis, tapi tak boleh. Takut bila ibu mendengar kesedihanku. Apalagi saat kupandangi ibu yang terdiam, pada lehernya terkalung selang bantu pernapasan yang ujungnya tertuju pada lubang hidung, dan tangannya dihiasi gelang pasien pada satu sisi, sedang sisi yang lain tertusuk jarum infus. Dari balik baju seragam pasien rumah sakit yang dikenakan Ibu, berjuluran beberapa kabel pemantau detak jantung dan tekanan darah. Beliau terlihat sangat pucat dan lemah. Uban telah menjalar diantara rambut hitamnya yang berombak-ombak. Bibirnya pasi berwarna merah jambu cenderung putih karena sebagian tertutupi kulit bibir yang mengering dan agak terkelupas. Kerut-merut menghiasi wajahnya yang masih menyisakan kecantikan yang dia wariskan pada mbak Etty. Tak heran laki-laki tampan yang tak lain adalah almarhum Bapakku, jatuh cinta padamu Ibu yang cantik. Mengingat Bapak, aku jadi makin sedih. Aku bening-beningkan suaraku yang agak parau terkikis rasa sedih. Aku cium tangan beliau dengan penuh kasih sayang. Tangan yang telah membesarkanku. Menimang dengan penuh kasih. Dan bila waktu yang ditentukan untuk menunggui ibu telah habis, aku segera keluar, pergi ke masjid tuk membasuh muka yang panas dengan lelehan airmata, dan berwudhu. Kemudian aku akan terpekur dalam dzikir dan doa yang panjang tuk ibu dan bapakku.

Dan memang, selalu saja aku berlari ke masjid saat hatiku galau. Seperti beberapa hari setelah aku menunggui ibu. Hanya saja sehabis mendengar berita dari kakaku itu badanku ternyata agak demam. Sehabis tahajud dan berdoa, masih dalam balutan mukena aku meringkuk, menangis. Tanganku memegang perutku yang perih, seperih hatiku yang rasanya macam dicincang, seakan aku tak mau hati yang remuk ini, pecah berantakan dan mengotori masjid. Aku berusaha menjernihkan pikiran dan menabahkan diri. Aku bangun, melipat mukena dan segera ke tempat wudhu tuk membasuh muka lagi. Sejuknya air di masjid malam itu, seperti ikut sedikit membilas perih itu. Aku kembali ke gedung Unit Rawat Intensif. Yang ku lihat hanya mbak etty. Aku tanyakan padanya dimana kakak yang lain. Tapi dia memandangku dengan penuh bahagia.
“kemana saja kamu? Mbak Dini mencari-carimu.” Tanyanya dengan ekspresi penuh khawatir sekaligus terdapat ekspresi bahagia.”Nan, ibu udah siuman. Alhamdulillah Nan.” Aku dipeluknya. Aku balas memeluk mbak etty dengan erat dan membisikkan hamdalah pada diriku sendiri. Dan kembali mataku menitikkan air mata. Namun kini adalah air mata bahagia.

Ternyata kakakku yang lain sedang mengangkut barang-barang seperti teremos, rantang makan, tikar, dan tas baju ke bangsal perawatan. Sekalian mengurus administrasi bangsal perawatan. Tak lama, aku melihat ibu didorong diatas brankar rumah sakit dengan mata terpejam. Dan agaknya mbak Etty dapat membaca kekhawatiranku, dia berkata,” ibu Cuma tidur. Tadi mbak udah liat ibu. Hanya saja memang belum berbicara.”. aku lega mendengarnya.

Kemudian seminggu penuh aku bergantian menjaga ibu dengan mbak Etty. Aku berjaga di siang hari saat mbak Etty harus masuk kantor, dan dia berjaga malam. Tapi aku memang tak pernah pulang ke rumah lama-lama. Kadang saat malam aku biarkan kakakku terlelap, toh siang juga dia bekerja. Kakakku yang lain telah pulang ke kotanya masing-masing untuk kembali bekerja. Aku sendiri ternyata masih diijinkan cuti.

Ibu masih diinfus, makannya masih berupa makanan pengganti serupa susu khusus untuk penderita diabetes yang diminumkan melalui hidung atau diistilahkan dengan melalui sonde. Ibuku telah sadar, tapi masih diam saja bila membuka matanya. Kadang aku memijit badannya, membantunya berguling untuk miring ke kiri tanpa dia inginkan. Ya, ibu seperti orang lumpuh. Dia sadar, tapi hanya terdiam saja. Hingga akhirnya sedikit demi sedikit ibu menggerakkan tangannya. Sejauh ini ibu berkomunikasi hanya dengan bahasa isyarat, belum bisa bercakap. Akhirnya ibu diijinkan pulang untuk melakukan rawat jalan oleh dokter.

Mbak Etty memang sangat berbeda dengan  aku. Dia adalah manusia yang tabah, sigap dan penuh ketelatenan. Seperti pada saat dahulu aku hanya bisa menangis sedih saat bapak sakaratul maut, dia dengan tabah mentalkin bapak. Saat aku bingung tak tau harus apa karena terlalu galau, dia telah melangkahkan kaki dan tau harus berbuat apa. Sama juga saat menemui dokter ketika ibu telah diperbolehkan rawat jalan. Dengan cerdas mbak Etty bertanya apa saja yang harus dilakukan untuk perawatan pasien rawat jalan. Tak hanya itu, setelahnya juga dia segera menghubungi beberapa teman sekantor yang kebetulan kantornya adalah rumah sakit, dimana dia dapat menemukan perawat yang bisa merawat ibu di rumah. Juga tentang terapis untuk ibu. Segera setelah mendapatkan nomor kontak mereka, tak menunggu lama mbak Etty segera menelponnya dan bernegosiasi tentang seberapa besar gaji mereka per bulan atau per kedatangan. Saat ibu memerlukan lampu terapi infra merah yang berharga ratusan ribu, tak enggan juga dia merogoh koceknya. Dan yang terpenting, dia juga membuatkan list telepon penting diantaranya dokter spesialis, nomor emergency rumah sakit, nomor telpon ambulance, dan juga nomor telpon dirinya serta suaminya. entahlah, sepertinya pikirannya selalu bening terjaga pas disaat yang lain didera keruwetan

Ibu dibawa pulang ke rumah mbak Etty, karena di rumah ibu, dulu beliau tinggal sendirian hanya dengan pembantu lepasan. Sehabis membereskan rumah, biasanya pembantu pulang. Kemudian mbak Etty juga menyewa seorang perawat yang bisa merawat ibu di rumah saat dia bekerja. Selain itu mbak Etty juga bisa tenang, karena didekat rumahnya ada kakak iparnya yang bisa dimintai bantuan bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Tapi meski ada perawat, tetap saja mbak Etty banyak terlibat dalam merawat ibu. Sungguh aku kagum pada kakakku itu.

Tak hanya itu, jangkauan pikirannya juga telah ke depan. Dia mengantisipasi saat nanti perawat berhalangan datang, atau terapis tak dapat dihubungi, selagi masih ada yang merawat, dia juga belajar bagaimana menggantikan popok, memandikan, dan menggantikan baju ibu. Mbak Etty juga belajar bagaimana menyambungkan selang infuse pada botol infus, cara memberi makan via sonde dan sebagainya. Sebagian lain sesekali dia akan meminta tolong pada pak mantri tetangga kakakku. Begitu juga masalah terapi, mbak Etty juga belajar memberikan terapi untuk ibu.

Aku meminta ijin pada mbak Etty untuk kembali ke Jakarta karena aku harus bekerja, dan tentu saja kakakku mengijinkan.
Suatu hari dia harus cuti untuk merawat ibu karena perawat tersebut mengundurkan diri. Memang berat pekerjaannya, karena ibu masih sangat bergantung pada orang lain. Dengan telaten mbak Etty merawat ibu. Saat ibu buang air kecil atau besar, dengan rapi dan berhati-hati dia bersihkan ibu. Dan aku juga sangat bersyukur, kakakku bersuamikan manusia sabar yang juga menyayangi ibuku sebagaimana dia menyayangi ibunya. Tak segan juga dia membantu mbak Etty saat harus menggendong ibuku. Mbak Etty dengan telaten pula memberikan terapi saat terapis berhalangan datang. Penuh sabar kakak memijat dan menyinari otot serta persendian ibu, sedikit demi sedikit mengajarkan ibu dari berbaring miring, mengangkat tangan, mengangkat kaki, berguling, duduk, dan belajar berjalan perlahan. Tentu saja dengan dibantu badannya yang memapah ibuku.

Ketelatenan kakak berbuah manis, ibu bisa kembali sehat. Saat ibu benar-benar telah sadar, beliau meminta untuk diajarkan kembali bacaan-bacaan dalam sholat. Alhamdulillah, ingatan tentang sholat tidak hilang. Tapi rupanya pengetahuan memasak atau ketrampilan rumah tangga lain sebagian hilang. Bahkan beliau lupa dengan wajah anaknya yang pertama. Aku sejujurnya merasa kehilangan ibuku. Beliau seperti bukan ibu. Tapi akhirnya aku istighfar, betapa Allah telah bermurah hati memberikan umur pada ibu. Alhamdulillah…

Hingga sekarang, ibu dalam keadaan sehat. Namun ibu tidak boleh sedih. Bila perasaan sedih mendera, biasanya beliau akan kejang. Mbak Etty sangat menjaga perasaan beliau. Selalu berwajah manis dan bahagia. Seperti ingin menularkan kebahagiaan yang semakin hari semakin membuat ibu kembali tampak bugar dan sumringah. Meski telah berbeda dari saat ibuku belum terkena stroke, aku bersyukur dan bahagia karena Allah mau mendengarkan doaku.
Aku sebagai anak seorang penderita diabetes, jadi harus waspada. Berdasarkan informasi yang aku dapatkan, baik melalui brosur maupun dari berselancar di dunia maya, aku memiliki resiko sebesar 40% terkena penyakit ini dibanding orang bukan keturunan diabetes. Tapi bukan tak mungkin untuk menghindari resiko diabetes tersebut dengan cara menjaga pola hidup sehat seperti makan makanan sehat kaya serat dan olahraga, juga diet rendah gula atau konsumsi gula yang tidak berlebih.

Itu adalah sepenggal kisah disaat Ibuku koma. Hikmah yang dapat kupetik untuk bekal menuju kedewasaan sangat banyak. Demikianlah manusia, hanya mampu mengira-ngira, berusaha, dan berdoa. Hanya Allah semata yang Maha Mampu memutuskan apa-apa yang terbaik bagi umatnya, hanya Allah saja yang Maha Mampu mengabulkan doa hambanya. Dan sejalan dengan makin bertambahnya umur, aku harus belajar dewasa menghadapi hidup, berkaca pada kakakku bagaimana menjaga pikiran tetap jernih saat menemui masalah, bagaimana tetap tegar dan tabah saat menatap musibah. Aku ingin seperti kakakku, manusia yang dapat diandalkan disaat susah, dan manusia yang mampu menularkan kebahagiaan. Dan hal itu memang kembali terbukti pada sigapnya dia beserta suaminya menghadapi bencana letusan besar gunung merapi setahun yang lalu. Ya Allah, lindungi dan sayangi kakak dan iparku. Aku menyayangi mereka.

Depok, 14 Desember 2011.

Saat ini, ibu semoga bahagia dalam lindungan Allah. aamiin.....