Senin, 11 Juni 2012

Betapa Kaya Rayanya Ragam Bahasa di Indonesia


Sama sekali tak ada niatan rasis dalam tulisan saya kali ini. Eh, di tulisan yang lain juga nggak lah. Memang sih, disini terkandung beberapa nama ras di Indonesia. Tapi kan memang karena Indonesia banget yang memiliki suku bangsa yang beragam. Kalo menurut Wikipedia, jumlah suku di Indonesia lebih dari 300. Wow, banyak banget. Dan sejalan dengan ragamnya suku bangsa yang ada di Indonesia, bahasanya pun beragam-ragam pula dengan tradisi yang berbeda-beda pula.

Saya sendiri, orang jawa yang menikah dengan orang bersuku Batak Tapanuli Selatan. Sungguh tak pernah menyangka saya akan menikah dengan orang seberang pulau. Tapi namanya juga jodoh, meski harus menyeberang pulau pun, pasti akan bersatu juga kan?


Saya satu-satunya anak bapak ibu yang menikah dengan orang suku lain. Kakak-kakak saya semua (kebetulan saya bontot dari 7 bersaudara) menikah dengan satu suku (jawa). Awal saya bercerita kepada kakak saya yang ke 6 pun, dia kaget alang kepalang. Meski ditutupi perasaan kagetnya, tapi saya tetap bisa membacanya dari raut mukanya yang takjub, tak menyangka. Tapi sungguh saya bahagia, saat saya perkenalkan dia di rumah, keluarga saya menerima dengan tangan terbuka. Alhamdulillah, bukan masalah berbeda suku, toh memang Indonesia sangat kaya ragam sukunya. Yang penting akhlaknya terpuji, mampu melindungi keluarganya kelak, bertanggung jawab, dan serius.

Saat telah menikah pun, keragaman budaya makin saya rasakan. Menikah dengan adat jawa, biasa saya saksikan. Karena semua kakak saya memang menikah dengan adat Jawa, utamanya Jawa Tengah. Saat perayaan atau resepsi di tempat mertua, kami merayakan dengan adat Batak Mandailing. Memakai mahkota logam besar yang cantik, baju kurung ala melayu, gelang-gelang, kalung-kalung, serta ulos yang diselempangkan. Begitu juga hiasan pelaminan yang didominasi warna merah dan kuning yang juga dihiasi oleh ulos.

Tak beda dengan budaya Jawa saat pernikahan dengan “pembekalan” berupa nasehat-nasehat yang disebut “ular-ular”, di adat Batak Mandailing juga ada pembekalan dari saudara-saudara yang dituakan. Selain itu ada juga pemberian ulos(mangulosi) ada tepung tawar, dan upacara adat lainnya yang saya belum begitu tau artinya.

Dalam berkomunikasi sehari-hari, kami dipersatukan dengan Bahasa Indonesia, bahasa nasional kebanggaan kita. Meski terkadang kami saling lupa saat menerima telepon dari saudara di kampung. Terkadang saya terselip berbahasa jawa. Begitu pula suami saya saat berbincang dengan opung anak saya, dia berbahasa mandailing. Namun kami tak keberatan. Sedikit-sedikit malah bisa memperkaya ranah bahasa kami.

Sebenarnya, peristiwa “pengayaan ranah bahasa” secara informal ini bukan hanya terjadi saat saya menikah dengan suami saya saja. Saat mulai memasuki bangku kuliah, saya menjadi lebih terbuka mata dengan keragaman dan kekayaan bahasa yang dimiliki Indonesia dengan lebih nyata. Tak hanya tahu dari buku-buku literatur sekolah saja yang memang semenjak sekolah dasar-terutama pelajaran Pendidikan Moral Pancasila- menjabarkan betapa beragamnya suku bangsa dan bahasa di Indonesia. Memasuki bangku perkuliahan, otomatis pergaulan menjadi lebih luas dan terbuka. Kebetulan saya menuntut ilmu pada perguruan tinggi negeri yang relatif luas peminatnya dari beragam suku.

Saat saya kuliah, selama di dalam kelas perkuliahan sebenarnya kami selalu berkomunikasi dengan bahasa pengantar resmi bahasa Indonesia. Hanya sebagian saja menggunakan pengantar berbahasa Inggris. “pengayaan ranah bahasa” justru timbul di luar lingkup kampus. Hal itu justru timbul saat saya bergaul dengan teman satu kost yang kebetulan sebagian bersuku sunda dengan bahasa sehari-hari sering berbahasa sunda, sebagian lagi bersuku jawa wilayah banyumas, dengan bahasa sehari-hari sering berbahasa Banyumasan (terkadang orang sering menyebutnya ngapak-ngapak), yang relatif berbeda dengan bahasa Jawa Tengah wilayah Jogja Solo. Sementara sebagian lagi bersuku Betawi, dengan logat khasnya.

Tapi kisah saya yang menarik saya untuk belajar bahasa daerah lain adalah bukan karena mereka dengan suka rela mengajari saya berbahasa daerah mereka. Awal saya bergabung dalam lingkup pergaulan mereka di kost, justru saya sering di kerjai karena saya satu-satunya suku yang tak memiliki teman satu kost yang satu suku dengan bahasa yang sama. Saya dulu sama sekali tak memahami bahasa Sunda, bahasa Banyumasan, dan hanya bahasa Indonesia dengan logat Betawi yang saya ketahui. Bahasa Betawi memang tak beda dengan bahasa Indonesia. Hanya logatnya saja yang sedikit berubah.

Namun, mereka melakukan itu bukan dengan tujuan jahat atau melecehkan. Mereka suka saja bercanda melihat temannya kebingungan mentranslasikan bahasa mereka. Akhirnya saya minta teman satu kelas saya untuk mengajari saya sedikit bahasa sunda atau bahasa banyumasan. Saat teman satu kost mengetahui betapa saya kukuh belajar bahasa mereka, akhirnya mereka luluh dan mau mengajari bahasa mereka. dan lebih lucunya lagi, saat saya telah memahami sedikit bahasa mereka, mereka justru berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Dan saat mereka bercandaan dengan bahasa mereka atau pun bahasa Indonesia, saya bisa turut tertawa dan terhanyut dengan bercandaan mereka.

Sekarang, saat saya telah bertempat tinggal di depok saya makin belajar logat Betawi. Karena meski termasuk dalam wilayah Jawa Barat, sebagian besar penduduk depok adalah orang Betawi. Maka makin kayalah ranah bahasa saya. Alhamdulillah.

Ah bangga dan senangnya menjadi orang Indonesia. Memiliki tak hanya kekayaan alam yang sangat berlimpah, keanekaragaman hayati yang kaya ragamnya, juga memiliki kekayaan budaya yang sangat patut kita banggakan. Yang harus terus di pupuk dan dibina adalah penghargaan terhadap keanekaragaman itu. Kebhinekaan yang menuju satu kesatuan Indonesia. Keragaman budaya itulah yang membuat Indonesia berbeda dengan Negara lain. Yang membuat Indonesia “Paling Indonesia”.

Depok 11 Juni 2012

Tulisan ini diikutkan lomba blog Paling Indonesia yang diselenggarakan oleh komunitas blogger Anging Mammiri bekerja sama dengan Telkomsel Area Sulampapua (Sulawesi - Maluku - Papua)

32 komentar:

  1. Kalau soal bahasa...memang negarakita paling kaya bahasa. Lupa jumlahnya berapa ya..pernah sempet baca,katanya kita punya puluhan ribu ragam jenis bahasa daerah.

    Itu Sumsel, palembang dan sekitarnya. buanyak banget macam bahasanya. sampe aku aja ga ngerti :D bahasa palembang beda, dengan sakatiga, beda dengan pagar alam besemah, beda dengan komering. puyeng sendiri :D

    aku lg pengen belajar bahasa sunda niy mbak :D enak soalnya dengernya. mendayu2

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak bella.apalagi ada rencana tinggal di Parung ya.masuk wilayah jawa barat.ntar kak nadine belajar muatan lokalnya bahasa sunda kalo nggak salah.:D.

      Hapus
  2. cucok memang orang Jawa nikah sama orang Batak. Tetanggaku jg gitu :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah..cuco'.temanku kayaknya anak "Pejabat" juga. lahir di Magelang dan besar juga di Magelang.akhirnya meski dia memiliki nama dan marga batak, tapi dia berbahasa jawa medok tanpa tahu bahasa batak.*jd ingat tiur maida.:D

      teh neu juga tuh mbak ela. suaminya orang Batak.

      Hapus
  3. bahasa itu salah satu khas yg "Indonesia Banget" yaaa... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak ke2nai. salah satu yang Indonesia banget adalah bahasa.satu pulau aja bahasanya beragam.trus seperti kata mbak bella(ichawee) di atas tuh..palembang aja ada buanyak bin bejibun bahasa yg makin mengunikkan Indonesia.^_^

      Hapus
  4. Mandailing toh mba.baju pengantin kita samaan mbaa. Keren ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh...sama ya?jeng windi orang mandailing kah?atau dr pihak suami?

      Hapus
  5. semoga sukses lombanya :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak marisa, aamiin.makasih telah berkunjung mbak.:D.masih newbie mbak.:D

      Hapus
  6. mbak anik indonesia banget, berbeda2 tetapi satu jua (suaminya ...hihihi). semoga sukses mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.iya mbak..berbeda-beda tapi tetap satu juga.hehehe^_^

      Hapus
  7. Aiiih mbak Anik jadi penganten gaul banget, pake nunjukin 'piis' ke kamera. Biasanya penganten kan diam aja kalo dipoto, xixixiii..
    Semoga menang ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe..itu masih dikamar mbak elyn.jadi berani ber-peace ria.xixixi...makasih do'anya mbak elyn.alhamdulillah.menang.yippie..^_^

      Hapus
  8. baru ngeh tuh fhoto ternyata fhoto pengantinnya mba Anik ya???? berat gak tuh mahkotanya???? aku bersyukur dulu nikah cuman pake adat kalimantan, gak mesti pake adat Palembang, lebih ribet bo...yang pasti mesti pake mahkota berat kayak mba Anik itu tuuuh....

    BalasHapus
    Balasan
    1. berat mbak sarah.pusing.xixixi...tapi keren yak.xixi..^_^

      Hapus
  9. mari kita lestarikan kebudayaan indonesia yang beraneka ragam ini.

    best regard,
    adi pradana

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar,bila bukan bangsa sendiri, siapa lagi?^_^

      Hapus
  10. trasdisi yang baru dengar,,
    informatif,,,

    Kunjungan blogwalking.
    Sukses selalu..
    kembali tak lupa mengundang juga rekan blogger
    Kumpul di Lounge Event Blogger "Tempat Makan Favorit"

    Salam Bahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya tau juga setelah menikah dengan adat itu.^_^

      Hapus
  11. berkunjung sekaligus membaca tulisan saudara diatas... Menarik!! Salam kenal dari saya.. jika berkenan, kunjungi juga tulisan saya.. Iwak Peyek dan Garuda yang Tak Pernah Terbang

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih.^_^.insyaallah akan balas berkunjung^_^

      Hapus
  12. BW ni Mbak...dan sama2 pny panggilan Anik :P (sok ngakrab)..

    Smoga tulisannya menang yaaaaa..Aminnnnn

    salam perkawinan campur..merdeka! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin mbak Anik juga.^_^.terima kasih do'anya.:D
      merdeka!^_^

      Hapus
  13. Balasan
    1. alhamdulillah...makasih mbak Naqi^_^

      Hapus
  14. Prok prok prok selamat mama Ola ... ikut senang dan bangga ...
    Tulisannya emang keren ^__^
    #Beuh, ke mana saja saya selama ini ya koq baru mampir di sini setelah pengumuman#

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah mbak Niar.makasih ya udah colek2 daku buat lomba ini.^_^

      Hapus
  15. Selamat ya, telah menjadi salah satu pemenang.
    Salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih.salam kenal juga^_^

      Hapus