Rabu, 20 November 2013

Henna

Henna. Itu lho yang buat bikin "tatoo" temporer. Karena Ola anak pertamaku pengen pakai kuteks udah dari lama, tapi aku nggak bolehin. Karena kuteks biasa gak bisa ditembus air wudhu. Akhirnya aku belikan henna aja. Untuk menghasilkan warna orange lembut, memakainya setelah aplikasi di kuku didiamkan sebentar saja. Kalau kelamaan, warnanya jadi makin gelap.

Nha, sisanya dipakai samamamanya buat iseng bikin tatoo temporer ala pengantin. Ternyata design henna cantik2 lho. Tapi hasil contekanku masih belum begitu rapi. Di bawah ini nih hasil oret-oretan asalku ke kulit. Hehehe...





Sabtu, 16 November 2013

Mengenang Almarhum Ibu : Vonis Itu tak Terkabul



Tulisan ini pernah disertakan dalam audisi Biru - Sabar Hingga Akhir Waktu. Namun tulisan saya ini masih jauh dari standar yang diharapkan. Kisah Nyata ini terjadi sepuluh tahun silam. Ibu seperti mendapat bonus umur 10 tahun dari Allah. Kesabaran kakakku bersama suaminya semoga dibalas ganjaran surga Allah. aamiin. Dan air mataku mulai menitik lagi. sekarang, doa kami anak cucumu yang menemanimu, bu. 

ibuku tercinta

Malam mulai larut, namun mataku yang memang telah pedas tak mau terpejam juga. Bergantian aku dengan kakak menjaga ibu yang baru saja siuman dari komanya. Ku biarkan saja Mbak Etty, kakakku persis, anak ke 6 dari 7 bersaudara dalam keluargaku, itu terlelap. Dia benar-benar letih. Wajahnya terlihat pucat, namun pada raut wajah cantiknya yang letih tak lagi tergurat kekhawatiran.

Tidak seperti dua hari yang lalu saat ibu masih terbaring koma sudah selama sepuluh hari dirawat di ruang “Unit Rawat Intensif”. Wajahnya yang pucat keletihan terlihat sangat gusar sehabis berkonsultasi dengan dokter. Aku yang kala itu melihat raut mukanya, langsung seperti tersetrum kekhawatiran darinya. Aih, apa yang bakalan aku dengar. Dadaku berdegup sangat kencang. Bahkan desiran darahku seperti terasakan di permukaan kulit. Dia menghampiri kakak-kakakku yang lain, berbicara sebentar. Entah apa yang membuat kakak kedua menitikkan air mata. Sepertinya aku dapat meraba isi percakapan mereka, vonis dokter. Dan merekapun bersama-sama mendekati aku yang tengah duduk di lantai teras gedung ICU. Rasanya aku ingin berlari saja saat itu. Kekhawatiran yang terlalu keras mencengkeram otak membuat aku melihat mereka seperti monster yang akan menerkam dengan kesedihan yang dalam.

Kakak nomor duaku, mbak Tuti menggamit bahuku. Di pegangnya kencang badanku dikelilingi saudara yang lain. Mbak Etty mendekat ke arahku.
“sabar ya Nan, kamu harus tabah dan ikhlas. Baru saja dokter mengabari Mbak Etty bahwa kita harus siap mental bila saja ibu dipanggil Allah.” Mbak Etty berkata pelan.
Seketika itu aku berontak dari pelukan kakak dan dengan marah aku berkata,”nggak mau. Aku nggak mau ibu meninggal. Aku udah minta ama Allah. Nggak mau.”
Aku pergi dengan sangat gusar dengan pipi yang telah berlumuran air mata. Kubanting-banting saja kakiku sepanjang koridor rumah sakit yang sepi itu menuju masjid. Tak peduli pada gosip menyeramkan tentang lingkungan rumah sakit. Yang ada dalam pikiranku saat itu, bila saja ada hantu yang hendak mengganggu akan aku gigit dan cerna saja lumat-lumat. Aku tak sadar, mungkin saja hantu itu kini tengah bersarang dalam otakku, mengacaukan rasio, membakar emosi, menghilangkan iman. Betapa ibuku adalah milik Allah, yang bila sewaktu-waktu Allah menghendaki, beliau akan dipanggil. Sungguh, aku hanya manusia egois yang beberapa tahun lalu baru kehilangan bapak, dan aku belum rela bila harus digenapkan dengan kehilangan ibu. Aku merasa belum siap menghadapi dunia ini sendirian.

Memang aku tahu, ibu sebagai penderita diabetes mellitus, sangat rentan terhadap stroke. Dan itu terbukti saat subuh hari sehabis sholat ibu ditemukan pingsan di dapur oleh kakak laki-lakiku. Segera saja ibu dilarikan ke rumah sakit dan masuk ICU. Kemarin-kemarin, secara bergantian kami menunggui ibu, dan mengajak ngobrol ibu yang tengah koma.

Tapi saat giliran aku yang harus mengajaknya ngobrol dan memegang tangannya, yang ada mulutku terasa kering. Air mata menggenang dipelupuk. Ingin menangis, tapi tak boleh. Takut bila ibu mendengar kesedihanku. Apalagi saat kupandangi ibu yang terdiam, pada lehernya terkalung selang bantu pernapasan yang ujungnya tertuju pada lubang hidung, dan tangannya dihiasi gelang pasien pada satu sisi, sedang sisi yang lain tertusuk jarum infus. Dari balik baju seragam pasien rumah sakit yang dikenakan Ibu, berjuluran beberapa kabel pemantau detak jantung dan tekanan darah. Beliau terlihat sangat pucat dan lemah. Uban telah menjalar diantara rambut hitamnya yang berombak-ombak. Bibirnya pasi berwarna merah jambu cenderung putih karena sebagian tertutupi kulit bibir yang mengering dan agak terkelupas. Kerut-merut menghiasi wajahnya yang masih menyisakan kecantikan yang dia wariskan pada mbak Etty. Tak heran laki-laki tampan yang tak lain adalah almarhum Bapakku, jatuh cinta padamu Ibu yang cantik. Mengingat Bapak, aku jadi makin sedih. Aku bening-beningkan suaraku yang agak parau terkikis rasa sedih. Aku cium tangan beliau dengan penuh kasih sayang. Tangan yang telah membesarkanku. Menimang dengan penuh kasih. Dan bila waktu yang ditentukan untuk menunggui ibu telah habis, aku segera keluar, pergi ke masjid tuk membasuh muka yang panas dengan lelehan airmata, dan berwudhu. Kemudian aku akan terpekur dalam dzikir dan doa yang panjang tuk ibu dan bapakku.

Dan memang, selalu saja aku berlari ke masjid saat hatiku galau. Seperti beberapa hari setelah aku menunggui ibu. Hanya saja sehabis mendengar berita dari kakaku itu badanku ternyata agak demam. Sehabis tahajud dan berdoa, masih dalam balutan mukena aku meringkuk, menangis. Tanganku memegang perutku yang perih, seperih hatiku yang rasanya macam dicincang, seakan aku tak mau hati yang remuk ini, pecah berantakan dan mengotori masjid. Aku berusaha menjernihkan pikiran dan menabahkan diri. Aku bangun, melipat mukena dan segera ke tempat wudhu tuk membasuh muka lagi. Sejuknya air di masjid malam itu, seperti ikut sedikit membilas perih itu. Aku kembali ke gedung Unit Rawat Intensif. Yang ku lihat hanya mbak etty. Aku tanyakan padanya dimana kakak yang lain. Tapi dia memandangku dengan penuh bahagia.
“kemana saja kamu? Mbak Dini mencari-carimu.” Tanyanya dengan ekspresi penuh khawatir sekaligus terdapat ekspresi bahagia.”Nan, ibu udah siuman. Alhamdulillah Nan.” Aku dipeluknya. Aku balas memeluk mbak etty dengan erat dan membisikkan hamdalah pada diriku sendiri. Dan kembali mataku menitikkan air mata. Namun kini adalah air mata bahagia.

Ternyata kakakku yang lain sedang mengangkut barang-barang seperti teremos, rantang makan, tikar, dan tas baju ke bangsal perawatan. Sekalian mengurus administrasi bangsal perawatan. Tak lama, aku melihat ibu didorong diatas brankar rumah sakit dengan mata terpejam. Dan agaknya mbak Etty dapat membaca kekhawatiranku, dia berkata,” ibu Cuma tidur. Tadi mbak udah liat ibu. Hanya saja memang belum berbicara.”. aku lega mendengarnya.

Kemudian seminggu penuh aku bergantian menjaga ibu dengan mbak Etty. Aku berjaga di siang hari saat mbak Etty harus masuk kantor, dan dia berjaga malam. Tapi aku memang tak pernah pulang ke rumah lama-lama. Kadang saat malam aku biarkan kakakku terlelap, toh siang juga dia bekerja. Kakakku yang lain telah pulang ke kotanya masing-masing untuk kembali bekerja. Aku sendiri ternyata masih diijinkan cuti.

Ibu masih diinfus, makannya masih berupa makanan pengganti serupa susu khusus untuk penderita diabetes yang diminumkan melalui hidung atau diistilahkan dengan melalui sonde. Ibuku telah sadar, tapi masih diam saja bila membuka matanya. Kadang aku memijit badannya, membantunya berguling untuk miring ke kiri tanpa dia inginkan. Ya, ibu seperti orang lumpuh. Dia sadar, tapi hanya terdiam saja. Hingga akhirnya sedikit demi sedikit ibu menggerakkan tangannya. Sejauh ini ibu berkomunikasi hanya dengan bahasa isyarat, belum bisa bercakap. Akhirnya ibu diijinkan pulang untuk melakukan rawat jalan oleh dokter.

Mbak Etty memang sangat berbeda dengan  aku. Dia adalah manusia yang tabah, sigap dan penuh ketelatenan. Seperti pada saat dahulu aku hanya bisa menangis sedih saat bapak sakaratul maut, dia dengan tabah mentalkin bapak. Saat aku bingung tak tau harus apa karena terlalu galau, dia telah melangkahkan kaki dan tau harus berbuat apa. Sama juga saat menemui dokter ketika ibu telah diperbolehkan rawat jalan. Dengan cerdas mbak Etty bertanya apa saja yang harus dilakukan untuk perawatan pasien rawat jalan. Tak hanya itu, setelahnya juga dia segera menghubungi beberapa teman sekantor yang kebetulan kantornya adalah rumah sakit, dimana dia dapat menemukan perawat yang bisa merawat ibu di rumah. Juga tentang terapis untuk ibu. Segera setelah mendapatkan nomor kontak mereka, tak menunggu lama mbak Etty segera menelponnya dan bernegosiasi tentang seberapa besar gaji mereka per bulan atau per kedatangan. Saat ibu memerlukan lampu terapi infra merah yang berharga ratusan ribu, tak enggan juga dia merogoh koceknya. Dan yang terpenting, dia juga membuatkan list telepon penting diantaranya dokter spesialis, nomor emergency rumah sakit, nomor telpon ambulance, dan juga nomor telpon dirinya serta suaminya. entahlah, sepertinya pikirannya selalu bening terjaga pas disaat yang lain didera keruwetan

Ibu dibawa pulang ke rumah mbak Etty, karena di rumah ibu, dulu beliau tinggal sendirian hanya dengan pembantu lepasan. Sehabis membereskan rumah, biasanya pembantu pulang. Kemudian mbak Etty juga menyewa seorang perawat yang bisa merawat ibu di rumah saat dia bekerja. Selain itu mbak Etty juga bisa tenang, karena didekat rumahnya ada kakak iparnya yang bisa dimintai bantuan bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Tapi meski ada perawat, tetap saja mbak Etty banyak terlibat dalam merawat ibu. Sungguh aku kagum pada kakakku itu.

Tak hanya itu, jangkauan pikirannya juga telah ke depan. Dia mengantisipasi saat nanti perawat berhalangan datang, atau terapis tak dapat dihubungi, selagi masih ada yang merawat, dia juga belajar bagaimana menggantikan popok, memandikan, dan menggantikan baju ibu. Mbak Etty juga belajar bagaimana menyambungkan selang infuse pada botol infus, cara memberi makan via sonde dan sebagainya. Sebagian lain sesekali dia akan meminta tolong pada pak mantri tetangga kakakku. Begitu juga masalah terapi, mbak Etty juga belajar memberikan terapi untuk ibu.

Aku meminta ijin pada mbak Etty untuk kembali ke Jakarta karena aku harus bekerja, dan tentu saja kakakku mengijinkan.
Suatu hari dia harus cuti untuk merawat ibu karena perawat tersebut mengundurkan diri. Memang berat pekerjaannya, karena ibu masih sangat bergantung pada orang lain. Dengan telaten mbak Etty merawat ibu. Saat ibu buang air kecil atau besar, dengan rapi dan berhati-hati dia bersihkan ibu. Dan aku juga sangat bersyukur, kakakku bersuamikan manusia sabar yang juga menyayangi ibuku sebagaimana dia menyayangi ibunya. Tak segan juga dia membantu mbak Etty saat harus menggendong ibuku. Mbak Etty dengan telaten pula memberikan terapi saat terapis berhalangan datang. Penuh sabar kakak memijat dan menyinari otot serta persendian ibu, sedikit demi sedikit mengajarkan ibu dari berbaring miring, mengangkat tangan, mengangkat kaki, berguling, duduk, dan belajar berjalan perlahan. Tentu saja dengan dibantu badannya yang memapah ibuku.

Ketelatenan kakak berbuah manis, ibu bisa kembali sehat. Saat ibu benar-benar telah sadar, beliau meminta untuk diajarkan kembali bacaan-bacaan dalam sholat. Alhamdulillah, ingatan tentang sholat tidak hilang. Tapi rupanya pengetahuan memasak atau ketrampilan rumah tangga lain sebagian hilang. Bahkan beliau lupa dengan wajah anaknya yang pertama. Aku sejujurnya merasa kehilangan ibuku. Beliau seperti bukan ibu. Tapi akhirnya aku istighfar, betapa Allah telah bermurah hati memberikan umur pada ibu. Alhamdulillah…

Hingga sekarang, ibu dalam keadaan sehat. Namun ibu tidak boleh sedih. Bila perasaan sedih mendera, biasanya beliau akan kejang. Mbak Etty sangat menjaga perasaan beliau. Selalu berwajah manis dan bahagia. Seperti ingin menularkan kebahagiaan yang semakin hari semakin membuat ibu kembali tampak bugar dan sumringah. Meski telah berbeda dari saat ibuku belum terkena stroke, aku bersyukur dan bahagia karena Allah mau mendengarkan doaku.
Aku sebagai anak seorang penderita diabetes, jadi harus waspada. Berdasarkan informasi yang aku dapatkan, baik melalui brosur maupun dari berselancar di dunia maya, aku memiliki resiko sebesar 40% terkena penyakit ini dibanding orang bukan keturunan diabetes. Tapi bukan tak mungkin untuk menghindari resiko diabetes tersebut dengan cara menjaga pola hidup sehat seperti makan makanan sehat kaya serat dan olahraga, juga diet rendah gula atau konsumsi gula yang tidak berlebih.

Itu adalah sepenggal kisah disaat Ibuku koma. Hikmah yang dapat kupetik untuk bekal menuju kedewasaan sangat banyak. Demikianlah manusia, hanya mampu mengira-ngira, berusaha, dan berdoa. Hanya Allah semata yang Maha Mampu memutuskan apa-apa yang terbaik bagi umatnya, hanya Allah saja yang Maha Mampu mengabulkan doa hambanya. Dan sejalan dengan makin bertambahnya umur, aku harus belajar dewasa menghadapi hidup, berkaca pada kakakku bagaimana menjaga pikiran tetap jernih saat menemui masalah, bagaimana tetap tegar dan tabah saat menatap musibah. Aku ingin seperti kakakku, manusia yang dapat diandalkan disaat susah, dan manusia yang mampu menularkan kebahagiaan. Dan hal itu memang kembali terbukti pada sigapnya dia beserta suaminya menghadapi bencana letusan besar gunung merapi setahun yang lalu. Ya Allah, lindungi dan sayangi kakak dan iparku. Aku menyayangi mereka.

Depok, 14 Desember 2011.

Saat ini, ibu semoga bahagia dalam lindungan Allah. aamiin.....

Jumat, 27 September 2013

Rainbow - Novel Kehidupan Yang Penuh Warna


Judul Buku                :  Rainbow
Penulis                      :  Eni Martini
Penerbit                    :  Elex Media Komputindo
Terbit                        :  Cetakan I, Juli 2013
Tebal Buku               :  vi + 201 halaman
ISBN                         :  978-602-02-1609-6

Membuka Rainbow, novel besutan mbak eni martini - subo nulisku di Be A Writer, seperti membaca cuaca hidup. Awalnya awan yang berbentuk cumulus, kemudian secara bertahap saat kejenuhan kandungan air di dalamnya meningkat, akan berubah menjadi awan cumulunimbus. Setelah tak mampu lagi menahan beban air yang dikandungnya, maka akan turun sebagai butiran es batu- bila suhu lingkungan sangat rendah, ataupun air bila suhunya lebih hangat. Dan terkadang diselingi petir yang menyambar di sela hujan yang merinai, karena benturan antar awan dengan muatan listrik yang berbeda, sebagai pelepasan energi listrik. Dan biasanya setelah rinai itu, di langit yang masih lembap menyimpan butiran air, maka akan terbias cantik selengkung pelangi elok sebagai hadiah kesabaran menjalani badai. coba saja sibak setiap lembaran babnya. judulnya serupa proses menuju pelangi itu: Cumulus, Winter in Home, Rainy Days, Flash, Menanti Pelangi, Pelangi.

Keisha dalam pikiran saya adalah Liv Tyler
Aku suka pelangi, kebanyakan orang suka pelangi. Tapi sungguh, aku tak begitu suka proses menujunya. terlebih lagi bila harus badai. Yang aku ingat untuk mencintai hujan adalah, bahwa dia sesungguhnya adalah rahmat Allah. Dan itulah yang sedang dialami Keisha. Kepahitan hidup yang bisa jadi akan menjadi pelangi di kemudian hari. Kepahitan hidup yang akan menempa mental dan memperkaya jiwa bila mampu menghadapinya, dan tak berlari ke arah yang salah.


Keisha, di sini digambarkan sebagai wanita mungil ramping, yang cantik, berkulit putih, berbibir penuh, dan rambut hitam yang ikal. Wanita dengan karakter lembut dan tidak memiliki sifat nakal. Aku membayangkan dia adalah Liv Tyler (benar-benar bertentangan dengan bapaknya ya. secara wajah bertentangan, secara sikap juga.xixixi..apaan sih). Kei adalah bidadarinya Akna.
Akna adalah Ben Affleck sumber dari : sini

Akna, adalah sepasang sayap yang akan melindungi sekaligus "menerbangkan" bidadarinya hingga langit ke tujuh. Akna laki-laki tampan yang gagah yang sangat protektif pada bidadarinya. (kira-kira, siapa ya? ah, aku bayangin dia adalah Ben affleck. Ganteng dan gagah).

Mereka berdua dalam bayanganku seperti penggambaran mbak Eni Martini dalam novelnya, adalah pasangan ideal ditinjau dari sisi perwajahan dan postur.

Tapi postur dan sifat gagah Akna luruh diterjang kecelakaan yang merenggut salah satu kakinya. Dia begitu apatis dengan hidup, kehilangan empati, kehilangan sifat kesatrianya, dan hanya dipenuhi oleh buruk sangka-buruk sangka dan pikiran negatif kepada lingkungannya. Terutama kepada istrinya yang sesungguhnya teramat di cintainya. Akna berubah serupa monster yang mengerikan.

Keisha, wanita lembut yang sejatinya perkasa itu bersabar menanti hidupnya kembali sang kesatria dari dalam tubuh Akna. Seperti putri yang bersabar menanti penyelamatan pangeran tampan setelah bertempur melawan monster yang melingkupi tubuh Akna. Tapi akhirnya Keisha menyerah juga setelah kejadian pahit yang menimpanya.

Sungguh cerita dalam novel mbak eni ini membumi. Peristiwa rumah tangga semacam ini memang mungkin saja nyata adanya. Sekalipun beberapa pembaca gemas dengan sifat dan sikap Akna yang berubah, dan dengan berbagai macam komentar saat membacanya, tapi sikap itu memang benar adanya bisa terwujud dalam hidup. Yap, karena pembaca tak mengalaminya langsung kepahitan itu. Terkadang, bila iman tak dikuatkan dalam hidup manusia, cobaan hidup bisa merenggut sisa iman yang ada. Manusia yang tadinya terlihat tegar, gagah dan kesatria, bisa saja berubah menjadi rapuh, luruh sekaligus gahar serupa monster saat menyangkut hal sensitif terkait hidupnya di senggol.

Seperti juga Keisha yang lemah seperti tak berdaya. Yang tak bersikap dan berkata tegas pada suaminya. terkadang, kenyataan hidup memang membuat kelu dan menelan semua nyali yang pernah manusia miliki. Iba, dan rasa sayang juga berbicara di sini.

Dan yang jelas, justru ramuan tulisan mbak Eni yang membuat gemas pembacanya atau melelehkan air mata itulah bentuk keberhasilan mbak eni memainkan emosi pembaca. pembaca larut dalam jalinan kata-kata dalam novel ini.

Bagi saya sendiri, saya menangis saat membaca ini. Terutama saat Keisha atau Akna sedang merindukan atau mengenang masa manis mereka. Saya menangis karena saya juga tengah merindu. Begitupun saat menulis resensi ini. Ah, kok jadi curcol.hehehe...

Dan yang pertama menarik hati saya adalah covernya. Rainbow tampil dengan warna eyecathing  yang elegan. Bukan asal mencolok mata dan membuat pedih serta muak dan pengen menyembunyikan buku itu. Rainbow tampil dalam balutan sebuah lukisan cantik, dengan sapuan kuas yang matang, lengkap dengan silhouette sepasang manusia yang berjalan bersisian. Seperti sedang meniti kehidupan dengan rona warna yang beraneka. Tapi ternyata isinya memang serupa dengan covernya. Bercerita tentang pelangi kehidupan ataupun proses menuju terbentuknya pelangi. Bisa dimaknai antara kedua itu. Antara cover dan isi terdapat kesesuaian.

Demikianlah, untuk para pembaca Rainbow yang lain, selamat menikmati keindahan pelanginya. Semoga kita bisa memetik hikmah dari warna-warni yang terpancar di dalamnya. ^_^




Olla dan Keen dengan Rainbow tante Eni Martini









Sabtu, 07 September 2013

Start the New Story: LDR bersama LG G2

sumber gambar:http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150329366219957&set=pb.105129574956.-2207520000.1378980629.&type=3&theater
LDR. itu satu kata yang sebenernya kepanjangan dari 3 suku kata yang aku benci. Long distance relation. Tapi apa daya, akhirnya aku mengalaminya sendiri.

Berbulan lalu, ada seorang teman yang curhat saat suaminya akan dipindah-tugaskan ke luar daerah tapi tentu saja dengar reward yang lebih besar. Aku bilang, kenapa dia tak setuju? Dia jawab karena sangat berat untuk mengikuti suami ke tempat kerja baru. Aku sempat bingung juga karena lokasi baru adalah ibu kota yang nota bene menjadi tujuan beberapa orang karena fasilitas perkotaan yang lebih lengkap dibanding remote area. Ternyata alasan utama dia adalah, karena dia sembari menunggui orang tuanya. Ah, memang sungguh benar. sulit sekali untuk berpisah meninggalkan orang tua. apalagi tak ada yang menunggui. Tak tega rasanya. Tapi LDR juga bukan pilihan dia. Begitupun bukan pilihan yang aku sarankan. Sebisa mungkin, satu keluarga lebih baik berkumpul dalam kehangatan. Aku sungguh turut bahagia saat temanku mengabarkan akhirnya suaminya tetap bertugas di kota tempat saat ini mereka tinggal dan merawat orang tua mereka.

Kisah lain dari temanku yang hingga kini masih LDR. Bagi mereka, pilihan itulah yang sekarang harus dijalani mereka. Aku tak mengecam juga. hidup toh terkadang harus memilih. Meski keinginan untuk berkumpul itu ada, tapi mungkin belum sekarang. Aku berdoa, semoga mereka selalu sehat dan bahagia, serta tenang hatinya dengan pilihan mereka.

Temanku yang lain lagi, terpaksa LDR karena perbedaan lokasi bekerja. Kebetulan mereka adalah suami-istri pasangan pekerja. keduanya PNS dan terpisah karena lokasi bekerja. Dan kebetulan lagi sang ibulah yang terpaksa pergi merantau meninggalkan rumah. Sungguh bukan pilihan yang mudah. Apalagi bagi seorang dengan titel ibu. Membayangkan saja aku perih. Tapi hidup jaman ini memang berat. tuntutan hidup layak memerlukan kekuatan finansial yang tangguh. dari kebutuhan mendasar aja masih banyak yang kesulitan untuk memenuhi bila hanya berasal dari satu "kran". Tapi Allah menakdirkan "kran" yang satu lokasinya jauhhh... sungguh dari rumahnya. Aku tau (ehmm.. lebih tepatnya sok tau) dalam setiap usai sujudnya, dia selipkan juga doa agar kembali berkumpul bersama keluarganya. Dan alhamdulillah Allah mengijabah doanya. Pengajuan mutasi ke kota tempat mereka tinggal disetujui. Saat ini dia telah dikumpulkan lagi dengar keluarganya. Sungguh turut berbahagia.

Hari ini, aku memulai babak baru dalam hidup. LDR. yang jelas bukan pilihanku. Bukan pilihan yang manis untuk saat ini. Tapi suamiku di tugaskan di luar kota. Sempat ada tuduhan yang menyakitkan aku dari orang yang sempat-sempatnya berpikiran negatif tentang aku. Aku matre, itu yang mendorong suamiku mau menerima "tugas" luar kota. Rasanya kesal dan sebal. betapa sok taunya dia. Belum pernah di tendang sama kakiku rupanya. Tapi logikaku alhamdulillah masih berjalan. Aku bersabar saja dengan perkataannya. Suamiku berkata, bahwa aku tak usah memasukkan ke hati. jangan dipikirkan. merugikan aku sendiri.

Hidup itu tapi terkadang memang harus memilih. meski LDR bukan pilihanku, namun aku memilih menjadi istri setia. menjadi istri sekaligus ibu yang tangguh dan tabah. Menjadi wanita sholeha yang selalu aku, orang tuaku, dan suamiku dambakan. insyaallah.

Salah satu bekal tangguh adalah berdoa, dan senantiasa berkomunikasi. dan kayaknya.. Komunikasi paling keren tuh kalo didukung dengan gajet keren. Tau nggak, aku sekarang lagi pengen punya gajet keren LG G2. Latest Gajet besutan LG ini keren banget. insyaallah gak lemot karena dukungan teknologi yang dimasukkan didalamnya. Tengok deh "jerohan" si LG G2 ini speknya apa aja.


Berdasar intip-intip beberapa situs pembahas gajet, ini dia speknya si G2:
Spek Jaringan :
Jaringan 2G : GSM 850 / 900 / 1800 / 1900
Jaringan 3G : HSDPA 850 / 900 / 1800 / 1900
Jaringan 4G : LTE 900 / 1800 / 2100 / 2600 / 850
Bayangin aja cepetnya jaringan ampe 4G. wuzzz... mau video call bisa nyaman endes marendes.

Spek Body :
Dimensi      :  138.5 x 70.9 x 8.9 mm (5.45 x 2.79 x 0.35 in)
Berat          :  143 g
Dengan bobot yang ringan dan ketebalan yang ramping, si LG G2 ini benar-benar slim and stylish. Ringan di pengang dan beautifully slim.

Spek Display :
Tipe           : True HD-IPS Capacitiv touchscreen 16M colors. High Definition dan IPS itu wajib sis..
Ukuran      : 1080 x 1920 pixel dengan panjang diagonal 5,2 inchi (~424 ppi pixel density)/ layar sentuhnya luas dengan kerapatan pixel yang bagus. jadi hasil foto atau video call puas deh cerahnya. I imagine can clearly see my hubby. Layar Multi touch dengan perlindungan screen menggunakan Corning Gorilla Glass 3.

Ditinjau dari segi suara alias sound. Kalo tanganku lagi rempong entah ngurusin anak keduaku yang masih bayi, atau nguncir rambut panjang ala princess disney kakaknya, gak khawatir. kan ada speaker phone.  Anak-anak juga bisa sekalian nimbrung. entah sekedar laporan tadi sekolah belajar apa, atau pengen denger kepintaran ocehan adek yang baru. Kalo mau rahasia nih... cie.. biar anak-anak gak denger bisik-bisik kita, tetep bisa kok. Kan ada earphone jacknya. Suaranya bening, Dolby mobile sound enhancement.

Nha.. kamera nih. penting. hari gini kamera menunjang kenarsisan yang sering dibutuhkan. entah sekedar buat kirim foto diri ke suami, ataupun kirim foto hasil ngoprek dapur. cake atau sayur atau lauk, boleh dong di share ke social media. Biar banyak yang bisa mengambil manfaat ilmu masak aku yang masih ecek-ecek. berbagi ilmu tidak rugi. hehehe.. Nih si LG G2, dia punya kamera 13 MP dengan auto focus, lengkap pake LED flash yang terang benderang. Udah gitu nih kamera utama bisa face detection, dan memiliki optical image stabilisation. Jadi meminimalisir ngeblur pada object bidik. Udah HDR lagi. HDR alias High Dinamic Range itu kurlebnya menyerupai pandangan mata saat mengcapture object bidik di kondisi pencahayaan apapun. keren punya kannn... Ada kamera depannya juga. 2.1 MP. Bisa buat video call. biar keliatan dua arah gitu. Berasa hadap-hadapan langsung. Keduanya bisa buat rekam video.

Smart phone ini dipersenjatai dengan CPU Quad-core 2.26 GHz Krait 400, GPU Adreno 330, Operating system Android OS, v4.2.2 (Jelly Bean), dan Chipset Qualcomm MSM8974 Snapdragon 800.

Fitur yang lainnya antara lain,  JAVA via Java MIDP emulator. Smart phone ini juga dilengkapi sensor Accelerometer, gyro, proximity, compass. Fitur pesan alias messaging SMS(threaded view), MMS, Email, Push Mail, IM, RSS. ditambah pembawa pesan yang bertebaran di google play yang beraneka macam. Dilengkapi pula browser HTML 5, radio FM dengan RDS atau (radio data system). terdapat juga GPS dengan dukungan A-GPS (asisted global positioning system) yang merupakan penyempurnaan GPS terdahulu, dan Global navigation satellite systems (GLONASS).

Fitur lainnya antara lain :
- Active noise cancellation with dedicated mic
- TV-out (via MHL A/V link)
- SNS applications
- MP4/DviX/XviD/H.264/H.263/WMV player
- MP3/WAV/FLAC/eAAC+/AC3/WMA player
- Photo viewer/editor
- Document viewer
- Organizer
- Voice memo/dial/commands
- Predictive text input

LG G2 ini tersedia dalam 2 warna yaitu hitam dan putih. Baterainya Non-removable Li-Po 3000 mAh. Meski tak memiliki slot kartu memory tambahan, tapi memory internalnya lumayan besar yaitu berkisar 16/32 GB, dengan 2 GB RAM.

Selain itu, ada pula pengaman "isi" smart phone ini dengan adanya guest mode. Jadi saat si smart phone berada di tangan anak-anak, file-file penting atau file lain yang "verboden" buat anak-anak tak bisa diakses mereka.

Kerennya lagi, nih smart phone berfungsi juga sebagai remote control. Semacam universal remote control yang bisa untuk mengendalikan televisi, AC ataupun perangkat audio, tentu saja yang compatible dengannya, produk LG lain yang tak kalah keren bin canggih.

Segudang hal keren lainnya antara lain
- dual recording, merekam baik kamera depan maupun belakang,
- zoom to track.  nge-zoom video yang tengah kita putar. serasa kita yang pegang kamera saat merekam.
- tracking zoom, dengan tracking zoom kita bisa memfokuskan pada satu titik tanpa kehilangan keseluruhan gambaran.
- capture plus untuk melakukan semacam "print screen" pada area artikel saat browsing, yang lebih luas/kita inginkan untuk di save/print dan dibaca kemudian.
- clip tray, menjadi semacam tempat penyimpanan file gambar,  text atau link untuk dibaca kemudian, semisal untuk pembanding suatu produk.
- fitur plug and pop, saat kita mem-plug in kabel USB, secara intuitif akan menunjukkan/menyajikan icon applikasi yang sesuai.
- audio zoom, secara smart akan membantu kita nge-zoom suara subyek yang ingin kita fokuskan.
- text link yang membantu mempermudah memindahkan/menyimpan informasi pada aplikasi yang dibutuhkan.semisal di kalender sebagai semacam agenda.
Dan segudang keunggulan lain ini didukung oleh baterai yang berdaya tahan lama. Jadi gak cepet lowbat. Gak repot-repot nenteng powerbank. Iya kalo ingat, kalo lupa kan berabe.

Nha karena persenjataan dan amunisi si LG G2 ini keren banget... gak cuma orang kantoran aja yang butuh. tapi ibu rumah tangga macam aku juga. selain alat komunikasi  sebagai telephone, bisa juga buat pusat sarana hiburan yang mobile. Bisa buat hiburan anakku saat bepergian jauh dengan mobil. Biar nggak bete bisa nonton film, atau main game. Dan buatku sendiri sebagai emak-emak yang pengen selalu exis, bisa mainan social media baik facebook, twitter, instagram, dan sebagainya. dan fasilitas document on the go, bisa buat nulis-nulis entah puisi geje, curhatan geje, atau liputan perjalanan untuk kemudian diposting di blog atau notes.

Nha, makanya emak-emak pun cocok banget deh sama nih LG G2. Apalagi emak yang terpaksa LDR macam aku.  penghargaan aku berikan pada wanita tabah yang berani menempuh LDR, baik dulu, ataupun sekarang: temanku mbak Angga guminya ayla, mbak Deta, mbak Raha Hesti, mbak Yulia Susi Setiawati, mbak Rhina Puspita, dan semua wanita pemberani lainnya. Semangat dan sehat selalu yaa. Ayo kita beli "senjata" ini. LG G2 powefull lho. ^_^ .Dia udah diuji dalam siksaan ketinggian stratorfer namun masih mampu bekerja dengan optimal. liat video uji ketahanannya di sini nih: http://www.youtube.com/watch?v=cn6Jhta861g#t=72.
mau tau lebih banyak mengenai LG G2 ini, silakan kunjungi : www.lg.com/global/g2
Ah... gimana, hebat kan? Jadi makin pengen punya nih smart phone keren ini. pokoknya LG G2 www.tomeyouareperfect.com deh. :D




















































































































Rabu, 28 Agustus 2013

Keenan itu Anak Perempuan Ya Mbak?

Hehehehe.. sering ketemu pertanyaan serupa. Baik pas ketemu langsung, atau lewat dunia maya. Beberapa teman nggak ngeh dengan nama Keen sebagai anak perempuan. umumnya nama Keen, apalagi Keenan adalah bergender laki-laki. Tapi ternyata bisa juga kok anak perempuan diberi nama Keenan. Aku kasi nama Keenan juga setelah brosing brosang sana-sini bisa dipakai nggak untuk anak perempuan, dan ternyata bisa. Memang sih kurang umum.

Keenan itu bentukan lain dari nama Keana atau Keanna. Yang di artikan sebagai berani, tegas, cerdas. Aku sendiri berharap Keen menjadi orang yang tajam pemikirannya, tajam analisanya, cerdas dan tangkas dalam bertindak, menjadi manusia berhasil dunia dan akheratnya. aamiin.

O, iya. Beberapa temanku salah dalam penyebutan nama Keenan. Dan panggilan yang benar untuk nama anakku dibaca sebagai "KINAN" atau "KINEN", bukan Ke-enan, atau Kenan. Bisa juga dipanggil KIN dari nama Keen. *_^

Kamis, 30 Mei 2013

Komunitas Idaman



Menemukan sebuah komunitas, terutama bagi perantau seperti aku tentu sangat menyenangkan. Entah itu suatu komunitas yang cara berkomunikasinya secara langsung/tatap muka lebih banyak dibandingkan dengan cara berkomunikasi lain, ataupun komunitas maya, yang biasanya komunikasinya lebih banyak dilakukan melalui internet, meski tak menutup kemungkinan untuk sesekali kopi darat. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.

Bagi saya, sama saja. Asalkan komunitas tadi mendatangkan rasa nyaman, memiliki kesamaan visi, bisa menjadi tempat berbagi-entah suka atau duka, dan bisa menjadi tempat mencari ilmu dan amal kebaikan. Boleh jadi, komunitas itu suatu saat nanti bisa mendatangkan keuntungan material, selain keuntungan moril yang berupa dukungan atau support-support.

Komunitas pertama secara tatap muka yang saya punya saat ini adalah komunitas lingkungan rukun tetangga. Bersosialisasi dengan baik bersama tetangga adalah mutlak perlu. Mereka adalah “saudara terdekat” kita saat ini. Memiliki hubungan yang baik dengan tetangga tentu saja menyenangkan. Kita bersama tetangga-tetangga -yang kebetulan dilingkungan saya adalah sesama perantau-akan saling menjaga. Saling berbagi, saling tolong menolong dalam perbuatan kebaikan. Tak terbayangkan bila memiliki tetangga yang jahat, atau berhati dengki, tak nyaman tentu rasanya kita memiliki tetangga semacam itu. Perbuatan baik pun bila diterjemahkan menjadi perbuatan buruk.

Komunitas yang lain adalah komunitas persatuan orang tua murid dan guru di sekolah anakku. Komunitas ini tak terlalu intens ku ikuti. Pertemuan hanya satu bulan sekali. Biasanya dilakukan untuk arisan dan pertemuan membahas kegiatan/kemajuan belajar anak murid. Tapi alhamdulillah. Menambah saudara dari pergaulan positif ini. Menggalang dana kecil untuk sekedar menjenguk yang sedang sakit, atau yang sedang melahirkan. Mengadakan bakti social, atau mengadakan bazaar kecil di lingkungan sekolah.

Selain kedua komunitas tadi, saya mengikuti beberapa komunitas online dunia maya. Jaman masih belum musim group facebook sih komunikasi komunitas dilakukan via mailing list. Karena sekarang yang lagi booming di Indonesia dalam berkomunitas digalang melalui facebook alias FB, maka saya ikuti beberapa komunitas online via FB ini. Bila saya membuka daftar komunitas/group FB yang saya ikuti, ternyata lumayan bejibun. Dari group ibu-ibu yang isinya bahasan seputaran tips dapur, kesehatan anak, lingkungan rumah dan pendidikan. Masalah “kasur”, ibu-ibu seperti memiliki kesepakatan tak tertulis, tak terlihat dan tak terucap bahwa hal itu tabu dibicarakan dimuka umum. Terkadang beberapa ada juga yang curhat saat marah/memiliki problem rumah tangga. Namun syukur, sepanjang pengetahuan saya beberapa masih menanggapinya dengan baik dan berusaha memberikan solusi.

Komunitas group FB lain yang saya ikuti adalah group bakul kue rumahan. Meski saya bukan bakul kue atau sekedar bakul kue wannabe, tapi asyik juga gabung dengan mereka. tak enggan mereka berbagi resep, tips dan trick menghadapi adonan, alat, dan teknik. Hampir serupa dengan group bakul kue, namun tetap beda adalah group my halal kitchen.
Saya juga mengikuti beberapa group serupa kelas untuk kepentingan ibu dan anak. Group tersebut antara lain home made healty baby food, room for children, serta asosiasi ibu menyusui Indonesia. Saya di group ini hanya menjadi pembaca pasif. ^_^.malu karena sedikit pengetahuan.

Group menulis yang saya ikuti antara lain ibu-ibu doyan nulis, dan Be a Writer. Banyak ilmu menulis yang ditebarkan di group tersebut.

Group yang lain tentu saja group blogger. Emak-emak blogger dan Warung Blogger. Namun, karena saya masih blogger taraf belajar, jadi tak terlalu banyak bisa memberikan sumbangsih juga.hehehe… bisanya baru nyari ilmunya saja.

Sebenernya, komunitas macam apa sih yang ideal buat aku? Komunitas yang ideal buat aku yang seperti keluarga. Ada kehangatan, ada komunikasi dua arah, saling menyayangi, saling menjaga, saling mendukung. Ada sedikit “kisruh”? wajar, bila masih bisa dikomunikasikan. Dalam sebuah keluarga yang sesungguhnya saja masih bisa terjadi kisruh, apalagi dalam “keluarga” komunitas. Namun bagi saya sendiri, alangkah lebih baiknya bila dalam bertutur kata, bertingkah laku, selalu berhati-hati, sopan, dan tidak aneh-aneh. Bukan jaim. Tapi tulus saja. Toh, insyaallah kebaikan yang kita pancarkan akan memantul lagi pada kita. Lagian berusaha tepa slira saja. Bila aku tak mau “dibegitukan” ya jangan “membegitukan”. Kurang lebih seperti itu. Seperti memaku kayu, kalo salah bila dicabut maka akan berbekas. Didempul pun, sudah tak sama lagi alias palsu. Hehehe… jadi memang lebih baik berusaha “memaku secara benar".

Jumat, 24 Mei 2013

Seandainya Aku Nggak Ngeblog



Seandainya saya tidak ngeblog. Tema Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri minggu ketujuh. Ini memaksa imajinasiku melukiskan apa yang akan terjadi bila aku nggak ngeblog.

Yang jelas seperti blogger pada umumnya ya, kemungkinan pergaulannya nggak bakalan seluas bila ngeblog. Apalagi aku profesiku ibu rumah tangga. Pergaulan di dunia nyata tak begitu luas. Tapi melalui ngeblog, pergaulanku jadi lebih luas. Tak Cuma sekitar rumah, sekolah anakku, kantor suamiku, atau kantorku dulu. Tapi bahkan bisa mencakup se-Indonesia Raya. Melalui sambungan internet, meski tak pernah langsung bertatap muka, jadi seperti menemukan saudara-saudara yang terpisah. Apalagi bergabung dalam satu group blogger.

Kemungkinan kedua bila aku nggak ngeblog ya… pengetahuanku tak akan seluas sekarang. Dengan ngeblog, mau tak mau aku juga harus blog walking. Memang sih, aku belum terlampau intensif BW. Kalau sudah intensif, pasti lebih-lebih lagi luasnya.xixixixi… ini bukannya sok luas ya. Tapi hanya membandingkan saja aku saat sebelum rajin ngeblog dan setelah rajin ngeblog.

Kemungkinan ketiga bila aku nggak ngeblog ya… karena pengetahuan nggak terlampau luas, tentu aku gak akan begitu gape masak dan baking. Eh… sekali lagi, aku belum gape-gape amat sih masak dan baking. Tapi dibandingkan tanpa ngeblog, pasti lebih gak gape lagi.xixixi… tapi dengan ngeblog, bisa aku share hasil percobaan beberapa resep hasil BWku. Dan tentu saja senang rasanya bila bisa bermanfaat untuk orang lain.

Kemungkinan keempat bila aku nggak ngeblog ya, ngabisin waktu main game. Hehehe.. sah-sah aja sih buat yang hobi main game-asal gak nyandu-nyandu amat. Soalnya emang main game itu asyik. Apalagi ada point rewardnya. Bahkan sependek pengetahuan saya, bagi gamer pro, pointnya bisa jadi duit karena bisa diperjual belikan. Dan tentu saja lingkaran pertemanannya jadi lingkaran pertemanan antara gamer, bukan blogger. Meski sebagian gamer juga adalah blogger. Soal prosentasenya, aku kurang tau. Hehehe..

Kemungkinan lain bila aku nggak ngeblog, ya aku ga bakalan ikutan tantangan 8 minggu ngeblog bareng anging mammiri. Atau ikutan ajang kontes blog yang ada. Dan hal itu otomatis menutup kemungkinan mendapatkan rejeki dari kontes blogging. Meski tidak sering, tapi pernah sih sekali dua menang lomba blog. Bukan pemenang utama memang. Tapi cukup menggembirakan dan menghibur hati. Yang ada sih justru sering banget kalahnya. Ga apa. Namanya juga usaha. Dan lagi belajar menjadi blogger yang baik, dan aktif. :D

Bila aku tidak ngeblog, tentu saja aku nggak tau gimana ngutak-atik blog. Mempercantik tampilan blog dan sebagainya. Aku belum segitunya sih melek teknologi blogging. Tapi sedikit bekal melek blogging dan sedikit bekal pengetahuan olah digital membuka peluang buatku membantu mempercantik blog beberapa temanku. Lumayan. Bukan pundit-pundi rupiah yang banyak, tapi aku suka apresiasi mereka dengan hasil kerjaku mempercantik blog mereka. Gegara itu, aku pernah dapet buku novel keren, buku motivasi, hingga coklat praline lezat. Lumayan banget kan.

Dan tentu saja dengan ngeblog, aku bisa spending my “me time” wiser than just talking a rumors with others, menyalurkan hobi olah digital, dan mengasah otak agak senantiasa tajam dan tak tumpul.

Dan bila aku gak nggeblog, tentu saja aku nggak akan ikutan tantangan 8 minggu ngeblog bareng anging mamiri. Mana temanya asyik-asyik, bikin otakku jadi mikir.hehehe… selama mengikuti tantangan ini, aku harus menyempatkan waktu untuk menulis/mengisi blogku sesuai dengan tema mingguannya. Disela anak-anak dan suamiku yang bergantian sakit, dari common cold, chicken pox alias varicella, campak dan hingga saat minggu ketujuh ini aku yang jatuh sakit karena kelelahan. Tapi alhamdulillah, sekarang telah get better. Eh.. kok malah curhat.xixixi. demikianlah kisahku dalam berandai bila aku nggak ngeblog. Kisahmu, apa?

Rabu, 15 Mei 2013

Dua Sisi


Hidup selalu memiliki dua sisi. Mereka seperti telah dijodohkan Tuhan. Berdampingan saling menggenapi satu sama lain. Baik-buruk, gelap-terang, susah-senang, dan sebagainya. Tulisan ini disertakan dalam tantangan #8 minggu ngeblog bersama Anging mammiri minggu ke enam tentang dua sisi.

Dua sisi itu juga sering kali membuat manusia ditelan dilemma. Memilih antara satu atau lainnya, yang keduanya sama-sama hasilnya. Sama-sama memiliki sisi kepahitan saat meninggalkan pilihan satu saat memilih pilihan lainnya.



Beberapa mengatakan, manusiawi bila manusia memiliki dua sisi. Tapi buatku sih, aku berharap selalu dan kupanjatkan dalam doaku agar “sisi gelap” dalam diriku meninggalkanku. Jangan sampai saat Allah memanggilku untuk menghadapnya, bagian sisi “hitam” punyaku lebih banyak dibanding sisi “putih”.

Tau, kan. Aku sebagai perempuan, susah sekali melepaskan diri dari tindakan bergunjing. Terkadang awalnya dengan alasan curhat. Tapi bila menemukan tempat curhat yang “salah”, yang ada justru melebar meleber ke mana-mana curhatannya. Seperti adonan cake yang terlalu mekar mengembang tak cukup lagi loyang penampungnya. Yang ada bukan cake cantik, tapi justru cake berbentuk aneh dan luberannya menetes ke plat pemanas oven. Membuat cepat rusak oven bila tak segera dibersihkan atau bisa mengakibatkan kebakaran. Sama juga saat kita curhat. Bila si penampung curhatannya kurang amanah, yang curhat terpanasi hingga menjelekkan orang lain, lalu isi curhatan meluber ke mana-mana. Banyak orang jadi tau aib kita. Aih, nggak ingin kan ya terjadi seperti itu.

Awalnya sih pengen curhat itu biar keselnya ilang pada seseorang. Tapi karena komporan-bukan tindakan menenangkan yang seharusnya- yang ada hati tak lagi lapang, makin panas, makin kesel saja pada orang itu. Padahal sih pengennya curhat itu ditenangkan, kalo bisa sih dikasi solusi atas masalah yang sedang dihadapi. Bukan makin merunyamkan. Tapi apa daya. Terkadang setan memang menang. Setan berkoalisi bersama nafsu ego, dan mengalahkan nurani. Bila dikompori, justru terpikir,”iya. Tuh kan. Aku memang bener. Dia tuh yang salah. Dia tuh nyebelin, bla..bla.. bla..”. dan bila ditenangkan, disabar-sabarkan, justru sering mikir dalam hati,”ih.. malah menggurui.” Atau,”nasehatnya basi banget. Klise.”, atau yang lebih parah justru terucap,”gue Cuma butuh loe dengerin, bukan loe nasehatin.”. geleng-geleng pada diri sendiri.

Kalo masalah bagaimana cara menampung curhatan, aku terus terang juga belum tau, kudu gimana. Terkadang memang cukup mendengarkan, mengangguk, atau ekspresi sedih secara tulus. Aku nggak tau. Yang ada justru seringkali aku ikutan panas mendengar curhatan teman. Dan karena ikutan panas-ngerasanya sebagai bentuk solidaritas nih- aku malah akhirnya jadi kompor meleduk. Kalo kasi semangat sepanas kompor meleduk sih nggak apa. Tapi kalo kasi saran kompor meleduk atas masalah yang terjadi di antara dua orang teman, rasa-rasanya memang gak tepat banget. Memang seharusnya saat mendengarkan curhatan teman tuh hati tetep tenang, pikiran tetep jernih. Jadi, saat dicurhatin, mungkin bisa memberi solusi. Ya, paling nggak bukan membuat tambah runyam masalah teman.
Dalam usaha mengurangi sebagian “sisi gelapku” ini, terakhir yang saat ini sempat terpikirkan olehku ya, paling aman tuh curhat sama Allah. Mau curhat apapun, sampai nangis Bombay seperti apapun, paling aman deh kalo dicurhatkan ke Allah. Dan insyaallah yang datang adalah solusi. Paling nggak pertama datang adalah ketenangan hati diantara kepasrahan diri pada Allah Yang Maha Kuasa. Setelah hati tenang, insyaallah solusi lebih mudah ditemukan. Dan yang jelas, insyaallah aib kita tak akan meluber ke mana-mana serta menambah runyam masalah yang ada.^_^. Dan sebisa mungkin, saat teman mempercayaiku sebagai tempat curhat, ya menjadi tempat curhat yang adem macam kulkas, menenangkan, dan berusaha bijak. (^_^)V


Rabu, 08 Mei 2013

Cinta Pertama



Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kelima.

Cinta pertama, terasa begitu indah bagi yang sedang menyesapnya. Mungkin semanis madu, atau permen loli. Atau bahkan seperti soda rasa strawberry. Manis, merah, segar, dan sensasi soda yang menusuki lidah. Mungkin seperti itu. Semua rasa menjadi satu. Semua terasa berbunga-bunga. Khusus remaja perempuan, hidup terasa lebih pink. Bila bertemu pujaan hati, jantung berdebar lebih kencang, dan tiba-tiba saja pipi rasanya terbakar. Bila tak berjumpa sekejap saja, rindu rasanya menyiksa, mendera-dera di dalam dada. Dan saat cemburu melanda jiwa, seakan seluruh tubuh disulut api menyala-nyala.

Tapi beda jaman, ekspresi cinta pertama berbeda pula. Jaman saya lagi muda,(serasa udah tua. Eh.. memang udah tua ding. At least lebih tua jauhhh… dari ABG.hehehe) semua rasa dan gejolak di dada cukup dipendam dalam hati. Palingggg.. banter ya nulis di buku diary. Buku diary yang dilengkapi gembok pula. Dan kuncinya, gelantungan di leher jadi liontin kalung. Biar nggak ada yang buka tuh diary dan baca-baca. Hanya teman-teman terpercaya saja yang boleh membacanya.

Entahlah sekarang. Sering saya harus geleng-geleng kepala. Keponakan saya, atau keponakan teman saya, atau adik teman saya yang kebetulan jadi teman facebook saya. Kok kayaknya tak malu mengumbar perasaan mereka di “muka umum”. Iya. Facebook itukan seperti Koran mading di tembok tepi jalan dengan huruf besar-besar. Isinya bisa terbaca siapapun yang masih dalam satu network (kecuali di setting tertentu). Entah menuliskan status alay tentang kerinduan mereka, atau apalah status alay lainnya. Sungguh mereka itu seperti membuka “peta harta karun” kepada semua orang. Bukan hanya kurang pantas menurut saya, tapi bisa jadi beberan informasi itu menjadi sasaran empuk penjahat yang sekarang juga makin marak mencari mangsa melalui media social yang kian murah dan mudah dicapai, bahkan melalui handphone tak terlalu mahal pun itu. Alhamdulillah, kalau keponakan saya sih akhirnya mengurangi status alay lebaynya di facebook setelah saya nasehati.

Namun sungguh, sekarang bagi saya, cinta terasa lebih indah saat telah mengayuh biduk dalam rumah tangga. Romantisme dalam suka dan duka bersama. Telah teruji bagaimana saat pasangannya dalam kesusahan, dalam kesakitan, dalam kesulitan, dalam kepahitan. Telah teruji dalam berbagi manis kehidupan, saling mendukung menggapai kesuksesan. Bukan sekedar kata puitis romantis tanpa realisasi. Bukan sekedar gombalan saja. Kami belajar memandang cinta sebagai sesuatu yang sakral. Bagian dari ibadah dalam keyakinan kami. Membina rumah tangga tak hanya untuk urusan syahwat dan dunia, namun urusan akherat juga. Bagaimana saling mengingatkan bila salah satu ada yang tengah terlena. Atau mengingatkan saat ada yang alpa atau terlupa.

Sungguh, elok teramat elok cinta dalam kesakralan rumah tangga. Meski orang lain berkata bahwa cinta pertama adalah cinta yang terindah, sulit terlupa. Namun bagiku tidak. Sebab, cinta karena Allah lebih indah untuk difikirkan. Dan bukan hanya kata-kata “cinta karena Allah”, namun pengamalannya justru tak tepat. Tidak, buka itu. Kata-kata itu bukan untuk rayuan masa pacaran sebelum pernikahan. Tapi yang benar pengamalannya. Dengan pernikahan. Tentu dengan pemahaman penuh, bahwa pernikahan bukan sekedar lembaga menghalalkan yang belum halal, tapi lebih dari itu. Pernikahan sebagai ibadah, mengamalkan sunah rasulullah sallalahu alaihi wassalam, menggapai ridha Allah agar lebih dipermudah dan ditenangkan hatinya saat ibadah.

Eh, ada tapinya nih. Saya sih bisa saja setuju dengan kalimat “cinta pertama sangat indah dan tak terlupakan”, karena bisa jadi kan, jatuh cinta pertama kali dengan suami/istri saat telah menikah. ^_*


Rabu, 01 Mei 2013

Icon My Blog

 Mari membuat ikon tuk tab blog kita. Biar beda gitu deh. Kalo di dongeng-naura.blogspot.com guruf A putih dalam lingkaran coklat.kalo di keen-kitchen.blogspot.com kayak gambar dibawah. Jadi semacam identity buat blog kita. Yang kayak gini ini lho, di blogspot biasa disebut fave icon.

Caranya:
Pertama kita unggah sebuah gambar apa saja, baik berupa foto atau verctor/logo/icon yang kita inginkan di blog kita. kemudian kita save. setelah itu klik kanan dan pilih copy  image location dari gambar/logo/icon yang kita pilih.


kemudian kita sisipkan copy-an  image location itu di antara ini:.
<link href='sisipin disini' rel='SHORTCUT ICON'/>

kemudian kita buka bagian design blog kita.klik pilihan template dan klik edit html



 

letakkan tepat di belakang </head>, cara nyari bagian </head>nya bisa dengan CTRL+F.pastekan kode tadi tepat dibelakang kode </head>.kemudian klik save template.




 atau cara mudahnya dengan utak atik fave icon dibagian layout.klik layout, klik edit fave icon:
setelah itu tinggal browse gambar favorit sebagai icon dengan ukuran tak lebih dari 100kb dan bentuknya kotak/square:


selamat mencoba yaaa...^_^

Warna Bercerita



Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keempat.


Warna, hadir melengkapi hidupku. Semasa aku kecil, seingatku aku menyukai warna merah jambu, hijau, kuning pastel, biru langit dan aneka warna lembut lainnya. Masih ku ingat, tak pernah aku memberikan warna tegas pada lukisanku selain warna-warna pastel kesukaanku. Hanya bordernya saja yang hitam tegas membingkai warna-warna pastel itu dan warna coklat, camilan kesukaanku. Gambar rumah, berwarna pastel, gambar sawah ladang kumplit gunung dan sungai-sungainya. Semua serba pastel. Terlebih lagi masa taman kanak-kanak dan sekolah dasar alat warna yang digunakan adalah crayon wax. Dimana saat pengaplikasian crayon ke kertas gambar warnanya cenderung tersamar/lembut.  Atau terkadang menggunakan pensil warna dengan aneka warna pastel juga.

Rabu, 24 April 2013

Wanita Inspiratifku Tak Hanya Satu


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.
.
Ya, bukan hanya satu. Ada beberapa wanita yang menginspirasiku.

ibuku dimasa tua
Wanita pertama, kakinya telah layuh, meski belum lumpuh. Kulitnya putih pucat dan banyak keriput. Bintik hitam telah bertebaran di mana-mana. Rambutnya tipis dan berwarna putih keperakan membingkai wajahnya yang mengusang. Kecantikannya telah lapuk dimakan jaman. Beliau bukan wanita terkenal yang menginspirasi orang banyak. Bukan hartawan yang dermawan. Beliau hanya wanita sederhana yang melahirkan aku dan keenam kakakku.
Ibuku. Pantas dan wajar sajalah adanya bila seorang anak mengidolakan ibunya. Seperti apapun juga, dimana pun juga. Sangat wajar seorang anak menyayangi ibunya. Tapi ibuku menginspirasiku menjadi full time mother justru karena dia adalah wanita bekerja. Ya, ibuku adalah wanita inspiratif pertamaku

Ibuku masa muda
Ibuku adalah perawat disebuah institusi rumah sakit daerah. Terkadang beliau masuk siang, terkadang pula masuk malam. Saat libur, beliau dedikasikan waktunya untuk keluarga, dan bergaul sedikit bersama tetangga. Ah, bukan. Alhamdulillah ibuku bukan type rumpiers yang bergaulnya untuk berghibah. Beliau bergaul insyaallah dengan cara yang baik. Menjadi pengurus PKK rukun tetangga wilayah rumah kami. Dengan sebagian pengetahuannya sebagai perawat, membaginya bagaimana hidup sehat, bagaimana membuat makanan sehat, atau bagaimana mengatasi sakit melalui P3K di rumah. Beliau juga aktif di pengajian ibu-ibu lingkungan RT dan mengikuti organisasi Aisyiyah Magelang.

Hobi ibuku selayaknya hobi ibu-ibu pada jamannya. Merajut, mengkristik, menyulam, menjahit, memasak, membuat aneka kue dan camilan. Ah, itu juga hobi selayaknya ibu jaman sekarang ya. Hehehe… hasilnya, baju lebaranku, atau kakakku adalah jahitan ibu.

Aksesoris rumah dari yang nempel permukaan vertikal hingga horizontal, buatan ibuku. Aksesoris rumah itu antara lain, kristik aneka rupa yang menyerupai lukisan yang menempel di dinding, menempel di bantalan kursi, atau sulaman yang menghiasi bantal serta seprei, menghiasi baju-baju kami. Rajutan taplak meja dari meja kotak kecil di sudut ruang tamu, hingga meja besar tempat kami makan. Pula tas cantik rajutan ibuku sendiri yang mengantarkan kondangan. Bahkan bonekaku, berupa boneka gajah adalah boneka perca cantik buatan ibuku.

Jajanan harian dari sekedar pisang goreng, atau getuk susu, adalah buatan ibuku. Kue lebaran nastar, kastengel, wajik bandung, dodol tape, kue satu atau koya kacang hijau, juga buatan ibuku. Dan masakan ibuku, jangan ditanya enaknya. Enak kalo aku bilang. Terbukti bukan hanya pada omongan anaknya. Tetangga kami, sering mendaulatnya sebagai “the chef” di acara hajatan apa saja di kampungku. Membuat ayam ingkung, capcay jawa yang ada bakwan tepungnya, mie goreng, tumis special, sup pengantin, gado-gado, sate, gulai, tongseng, brongkos, bakso, somay, kolak, gudek, sambel goreng, hampir apa saja. Termasuk cake jenis bolu/pound cake yang dulu tenar di kampungku. Bolu marmer yang harum aroma vanilla beradu dengan aroma cokelat. Jaman dulu, ibuku mengocok adonan dengan whisk berulir/per. Dan saat aku masih kecil membayangkan ingin memiliki whisk per berukuran besar untuk mainan lompat2.^_^

Ya, aku pernah merasakan “kehilangan” ibuku disaat aku kecil karena ibuku bekerja. Memang ada saat-saat aku ingin beliau selalu ada disampingku saat aku membutuhkannya. Terutama saat aku sebagai anak kecil sedang ketakutan, yang kutemuka ada disisiku hanya emak pengasuhku. Hingga rasanya aku makin sayang pada emak pengasuhku. Saat emak pengasuhku meninggal dunia, sedih rasanya. Hingga aku pun menangis tanpa segan. Dan aku baru tahu saat itu, ternyata ibuku cemburu akan sayangnya aku pada pengasuhku. Aku tak seperti itu. Aku tak ingin anak-anakku kehilangan aku yang ditelan pekerjaan disaat mereka pada masa sangat membutuhkan seorang ibu. Dan suamiku setuju, aku resign saat kehamilanku menginjak bulan ke 6.

buku tulisan mbak Niar
Bukan hal mudah, beradaptasi dari wanita bekerja menjadi ibu rumah tangga. Tapi alhamdulillah seiring waktu, aku bisa.

Tulisan ini bukan menentang atau wujud ketidak-setujuan pada wanita bekerja. Karena bekerja di mana saja adalah pilihan masing-masing. Pada masing-masing pribadi, ada masing-masing alasan dan pertimbangan. Ada perjuangan-perjuangan juga. Ada cita-cita yang lebih besar dari sekedar ego pribadi sepertiku dan sebagainya. Aku ingin seperti ibuku yang terampil apa saja, namun tetap bisa mendampingi anak-anakku.

Wanita inspiratif kedua bagiku adalah, temanku sendiri. Mbak Mugniar Marakarma. Aku akrab menyapanya mbak Niar. Wanita cantik berjilbab ini adalah seorang penulis, yang juga merupakan blogger. Wanita ini menginspirasiku untuk menebar manfaat pada jangkauan lebih luas melalui dunia cetak, maupun dunia maya. Sungguh, bertatap muka saja aku belum pernah. Tapi dia tak segan membagi ilmunya.

mbak Shabrina dan salah satu  bukunya
Pada diriku, aku ingin menebar manfaat dari rumah melalui blog. Aku belajar menjadi blogger untuk menebar sebagian ilmu yang aku tahu. Dan semoga manfaat dapat tertuai dari membaca blogku.aamiin.

Wanita inspiratif ketiga adalah mbak Shabrina. Wanita mungil yang memiliki profesi sebagai penulis dan ibu rumah tangga ini berhati cantik. Aku ingin menirunya. Memiliki buku yang memuat tulisan dengan diksi-diksi indah, yang tak hanya menebar kata-kata dalam bukunya, namun juga mengunggah hikmah agar bisa dipetik pembaca. Buku yang dia tulis memperkaya hati.


Mbak Rini pengusaha bakery rumahan
Wanita inspiratif keempat adalah mbak Rini. Wanita ini lulusan teknik kimia UGM.  Seorang ibu rumah tangga yang juga merupakan pengusaha bakery rumahan. Kegigihannya belajar baking secara otodidak membuahkan hasil yang manis. Karya-karya cakenya yang tak sekedar enak, namun juga cantik, serta kerja kerasnya membuat satu lapangan usaha sendiri di rumah. Aku ingin memiliki usaha serupa.

Semoga, satu per satu cita-citaku dapat terwujud nanti.aamiin.



Selasa, 16 April 2013

Aroma Magelang Membuatku Rindu

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.


Hallo. Meski aku bukan orang makasar, tapi aku suka ikutan berpartisipasi ngeblog 8 minggu bersama komunitas blogger Anggingmammiri. Kebetulan aku memiliki beberapa kenalan orang makasar. untuk minggu kedua dengan tema Rasa Lokal, aku mau bercerita sedikit tentang kota asalku saja.

Aku berasal dari kota kecil ditengah pulau jawa yang memiliki cerita tentang ‘Paku Pulau Jawa’. Paku Pulau Jawa sendiri bentuknya adalah sebuah bukit, yakni bukit Tidar. Yup, aku berasal dari kota Magelang. Kota kecil tempat ‘Kawah Candradimuka’, tempat menggembleng para kasatria taurna angkatan darat.

Kotaku letaknya antara Yogyakarta dan Semarang. Suasana kotanya tak terlalu ramai, namun tak juga sepi. Tapi kalo lagi lebaran, jangan ditanya. Sepertinya saat lebaran tiba orang-orang kota besar sementara tumpah ruah dikotaku. Dan mendadak macet ada dimana-mana.Ah, itu baru sebagian aroma yang membangun magelang.
jalanan kota yang penuh debu merapi

Kotaku, meski seperti terbagi dua antara kotamadya dan kota kabupaten, bagiku sendiri satu kesatuan. Kotaku lumayan sejuk karena memang berada di dataran tinggi sekitar 380m dpl, dengan lokasi dikelilingi ‘tembok’ gunung-gunung. Keren ya, temboknya aja gunung. Tapi kalau lagi meletus, uh... jangan ditanya. Serem banget. Kayak pas merapi meletus kemarin. Jedar jedur, kaca dan tembok rumah bergetar hebat. Genteng seperti ditaburi batu, kerikil dan pasir. Pepohonan pada tumbang dan mati terkena taburan debu, pasir, kerikil dan batu panas. Kolam ikan kakakku berubah menjadi kolam pasir dan bibit ikan 5000 ekor mati tertimbun pasir panas. Itu juga masih untung.(aih..orang jawa ya. Kena bencana bilangnya masih untung?) maksudku, untung lokasi rumahku tak termasuk lokasi daerah terdampak awas Merapi. Tapi itu juga sudah hancur lebur keadaannya. Kota magelang mirip kota mati.
Water Tower Magelang

Kalau tak meletus  sih sungguh kotaku kota yang asri.  Alun-alun kotanya alhamdulillah masih berumput hijau. Di tepi lapangan alun-alun sebelah barat laut, berdiri kokoh bangunan water tower kuno yang menjadi salah satu icon kotaku. Dibuat di jaman Belanda sekitar tahun 1916, dan sampai sekarang masih beroperasi sebagai water tower bagi kota Magelang. Warga magelang sendiri malah menyebutnya sebagai menara kompor besar. Iya, abisnya mirip banget sama bentuk kompor minyak tanah yang berukuran sangat besar.



Kotaku sangat spesial. Kotaku menyimpan salah satu World Heritage yang diakui oleh UNESCO (United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization). Yaitu Candi Borobudur. Disekitaran Candi Borobudur, masih terserak beberapa candi ukuran lebih kecil, antara lain Candi Mendut, Candi Pawon,, Candi Asu (Sengi), Candi Lumbung, Candi Pendem, Candi Canggal atau Candi Gunung Wukir, Candi Selogriyo, Candi Losari, Candi Gunungsari, dan Candi Umbul. Namun candi yang letaknya paling dekat dengan Candi Borobudur, hanya Candi Mendut dan Candi Pawon.Di sini sering dipakai untuk upacara keagamaan Budha, prosesi dari Candi Mendut bergerak seperti pawai menuju Candi Borobudur. Dan biasanya, pada musim ini banyak penduduk lokal sekitar candi yang rumahnya berubah menjadi guesthouse sementara.
Candi Borobudur


Untuk urusan makanan, kotaku memang tak terlalu berbeda dengan kota sekitaran kotaku masakannya. Ada gudeg, sambel goreng krecek, mangut, berbagai macam oseng-oseng. Namun ada yang spesial dan terkenal hingga kemana-mana. Nasi goreng Magelangan. Yaitu nasi goreng yang dicampur dengan mie. Karena itu memang style magelangan. Selain itu Sego Godok magelangan. Sego itu bahasa jawanya nasi. Sedangkan godok itu adalah merebus. Menu Nasi Rebus magelangan, yang belum kenal tentu akan terdengar aneh bila mendengarnya. Namun jangan salah, Sego Godok itu enak banget. Hampir mirip dengan mie rebus ala Magelang.



Kuliner unik yang lain adalah Kupat Tahu Magelang. Potongan tahu goreng yang digoreng tak terlalu kering, potongan ketupat, taoge rebus, kol iris rebus dan ditaburi daun bawang cincang beserta bawang goreng dan kacang goreng yang ditumbuk agak kasar. Kemudian diguyur kuah gula gurih manis segar. Satu lagi Kuliner special adalah Sop Snerek. Sop yang sepertinya mendapat pengaruh dari resep Belanda. Sop daging dengan isian potongan daging sapi, kacang merah, bayam, wortel, daun seledri, ditaburi bawang merah goreng dan daun bawang cincang. Aroma bawang putih yang kuat, terbersit rasa merica sedikit dan pala. Segar dan gurih.
Kupat Tahu Magelang

Selain kuliner di atas, kotaku terkenal sebagai kota getuk. Getuk jenis apa saja, sepertinya mudah ditemukan di Magelang. Dari getuk pisang, getuk ubi, getuk kimpul atau talas, hinggagetuk singkong yang ragamnya saja bermacam-macam. Getuk singkong sendiri ada getuk wungkal, getuk tanpa penambahan apapun dan yang paling tradisional berwarna keabuan. Getuk ini biasa dimakan dengan parutan kelapa dengan taburan gula atau sedikit garam. Bentuk awalnya yang hanya kotak dan berwarna keabuan, mirip batu asah, sehingga disebut sebagai getuk wungkal, bahasa jawa untuk batu asah. Selain getuk wungkul, terdapat juga endog gludug. Serem amat namanya. Endog adalah telur, gludug adalah geledek. Bentuk getuknya bulat putih, terbuat dari singkong rebus dihaluskan kasar bersama parutan kelapa dan sedikit gula pasir. Kemudian juga ada getuk trio, getuk yang terbuat dari singkong rebus yang kemudian diberi margarin, susu, vanili, dan pewarna makanan. Biasanya 3 warna, putih, coklat, dan pink lembut. Makanya diberi nama getuk trio. Tapi hal ini juga berkaitan dengan toko yang awalnya memproduksi getuk jenis ini, yaitu toko Trio.

Ah, panjang juga kalo pengen cerita tentang  kotaku. Itu hanya sebagian, sebersit saja aroma magelang. Aromanya membuatku rindu. Dan yang ada, sekarang aku  jadi kangen ibuku, kangen kakak-kakakku, kangen kotaku. Suatu saat, bila kalian berkunjung ke yogyakarta, jangan lupa singgah ke kota kecilku tercinta ya. Magelang.^_^


Postingan ini disertakan dalam minggu kedua  #8MingguNgeblog Anging Mammiri