Jumat, 15 Juni 2012

Iklan-Iklan yang Terkomentari Ola

Hehehe...postingan ini catatan harianku dalam menghadapi anakku. Makin hari, dia makin kritis dalam melihat segala sesuatu. Makin hari makin banyak pertanyaan yang dia ajukan sehubungan dengan apapun.

Sekaang sih lagi suka banget mengkritisi iklan.

1. Iklan sabun mandi anti septic.
Produk terbaru khusus untuk pria. berikut ini dialog antara aku dan anakku:
Ola: mama, itu sabun D***l baru mah. Buat ayah-ayah ya mah?
Mama : Iya ya, baru. Yuk belikan buat ayah.
(ternyata di akhir iklan laki-laki yang mandinya pakai produk tersebut di samperin wanita cantik dan wanita itu seperti menempel pada laki-laki itu)

Selasa, 12 Juni 2012

Karya Untuk Lomba Foto Blogfam

Rajinnya anak cantikku bantuin mamanya cuci piring^_^


Abis mandi dan sudah wangi. Pose dulu:D

Pura-pura jadi cover majalah. Keren kan???..

 
Action as a painter artist.


nyanyi....twinkle little star...
senyumku manisss...sekali^_^

Senin, 11 Juni 2012

Betapa Kaya Rayanya Ragam Bahasa di Indonesia


Sama sekali tak ada niatan rasis dalam tulisan saya kali ini. Eh, di tulisan yang lain juga nggak lah. Memang sih, disini terkandung beberapa nama ras di Indonesia. Tapi kan memang karena Indonesia banget yang memiliki suku bangsa yang beragam. Kalo menurut Wikipedia, jumlah suku di Indonesia lebih dari 300. Wow, banyak banget. Dan sejalan dengan ragamnya suku bangsa yang ada di Indonesia, bahasanya pun beragam-ragam pula dengan tradisi yang berbeda-beda pula.

Saya sendiri, orang jawa yang menikah dengan orang bersuku Batak Tapanuli Selatan. Sungguh tak pernah menyangka saya akan menikah dengan orang seberang pulau. Tapi namanya juga jodoh, meski harus menyeberang pulau pun, pasti akan bersatu juga kan?

Saya satu-satunya anak bapak ibu yang menikah dengan orang suku lain. Kakak-kakak saya semua (kebetulan saya bontot dari 7 bersaudara) menikah dengan satu suku (jawa). Awal saya bercerita kepada kakak saya yang ke 6 pun, dia kaget alang kepalang. Meski ditutupi perasaan kagetnya, tapi saya tetap bisa membacanya dari raut mukanya yang takjub, tak menyangka. Tapi sungguh saya bahagia, saat saya perkenalkan dia di rumah, keluarga saya menerima dengan tangan terbuka. Alhamdulillah, bukan masalah berbeda suku, toh memang Indonesia sangat kaya ragam sukunya. Yang penting akhlaknya terpuji, mampu melindungi keluarganya kelak, bertanggung jawab, dan serius.

Saat telah menikah pun, keragaman budaya makin saya rasakan. Menikah dengan adat jawa, biasa saya saksikan. Karena semua kakak saya memang menikah dengan adat Jawa, utamanya Jawa Tengah. Saat perayaan atau resepsi di tempat mertua, kami merayakan dengan adat Batak Mandailing. Memakai mahkota logam besar yang cantik, baju kurung ala melayu, gelang-gelang, kalung-kalung, serta ulos yang diselempangkan. Begitu juga hiasan pelaminan yang didominasi warna merah dan kuning yang juga dihiasi oleh ulos.

Tak beda dengan budaya Jawa saat pernikahan dengan “pembekalan” berupa nasehat-nasehat yang disebut “ular-ular”, di adat Batak Mandailing juga ada pembekalan dari saudara-saudara yang dituakan. Selain itu ada juga pemberian ulos(mangulosi) ada tepung tawar, dan upacara adat lainnya yang saya belum begitu tau artinya.

Dalam berkomunikasi sehari-hari, kami dipersatukan dengan Bahasa Indonesia, bahasa nasional kebanggaan kita. Meski terkadang kami saling lupa saat menerima telepon dari saudara di kampung. Terkadang saya terselip berbahasa jawa. Begitu pula suami saya saat berbincang dengan opung anak saya, dia berbahasa mandailing. Namun kami tak keberatan. Sedikit-sedikit malah bisa memperkaya ranah bahasa kami.

Sebenarnya, peristiwa “pengayaan ranah bahasa” secara informal ini bukan hanya terjadi saat saya menikah dengan suami saya saja. Saat mulai memasuki bangku kuliah, saya menjadi lebih terbuka mata dengan keragaman dan kekayaan bahasa yang dimiliki Indonesia dengan lebih nyata. Tak hanya tahu dari buku-buku literatur sekolah saja yang memang semenjak sekolah dasar-terutama pelajaran Pendidikan Moral Pancasila- menjabarkan betapa beragamnya suku bangsa dan bahasa di Indonesia. Memasuki bangku perkuliahan, otomatis pergaulan menjadi lebih luas dan terbuka. Kebetulan saya menuntut ilmu pada perguruan tinggi negeri yang relatif luas peminatnya dari beragam suku.

Saat saya kuliah, selama di dalam kelas perkuliahan sebenarnya kami selalu berkomunikasi dengan bahasa pengantar resmi bahasa Indonesia. Hanya sebagian saja menggunakan pengantar berbahasa Inggris. “pengayaan ranah bahasa” justru timbul di luar lingkup kampus. Hal itu justru timbul saat saya bergaul dengan teman satu kost yang kebetulan sebagian bersuku sunda dengan bahasa sehari-hari sering berbahasa sunda, sebagian lagi bersuku jawa wilayah banyumas, dengan bahasa sehari-hari sering berbahasa Banyumasan (terkadang orang sering menyebutnya ngapak-ngapak), yang relatif berbeda dengan bahasa Jawa Tengah wilayah Jogja Solo. Sementara sebagian lagi bersuku Betawi, dengan logat khasnya.

Tapi kisah saya yang menarik saya untuk belajar bahasa daerah lain adalah bukan karena mereka dengan suka rela mengajari saya berbahasa daerah mereka. Awal saya bergabung dalam lingkup pergaulan mereka di kost, justru saya sering di kerjai karena saya satu-satunya suku yang tak memiliki teman satu kost yang satu suku dengan bahasa yang sama. Saya dulu sama sekali tak memahami bahasa Sunda, bahasa Banyumasan, dan hanya bahasa Indonesia dengan logat Betawi yang saya ketahui. Bahasa Betawi memang tak beda dengan bahasa Indonesia. Hanya logatnya saja yang sedikit berubah.

Namun, mereka melakukan itu bukan dengan tujuan jahat atau melecehkan. Mereka suka saja bercanda melihat temannya kebingungan mentranslasikan bahasa mereka. Akhirnya saya minta teman satu kelas saya untuk mengajari saya sedikit bahasa sunda atau bahasa banyumasan. Saat teman satu kost mengetahui betapa saya kukuh belajar bahasa mereka, akhirnya mereka luluh dan mau mengajari bahasa mereka. dan lebih lucunya lagi, saat saya telah memahami sedikit bahasa mereka, mereka justru berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Dan saat mereka bercandaan dengan bahasa mereka atau pun bahasa Indonesia, saya bisa turut tertawa dan terhanyut dengan bercandaan mereka.

Sekarang, saat saya telah bertempat tinggal di depok saya makin belajar logat Betawi. Karena meski termasuk dalam wilayah Jawa Barat, sebagian besar penduduk depok adalah orang Betawi. Maka makin kayalah ranah bahasa saya. Alhamdulillah.

Ah bangga dan senangnya menjadi orang Indonesia. Memiliki tak hanya kekayaan alam yang sangat berlimpah, keanekaragaman hayati yang kaya ragamnya, juga memiliki kekayaan budaya yang sangat patut kita banggakan. Yang harus terus di pupuk dan dibina adalah penghargaan terhadap keanekaragaman itu. Kebhinekaan yang menuju satu kesatuan Indonesia. Keragaman budaya itulah yang membuat Indonesia berbeda dengan Negara lain. Yang membuat Indonesia “Paling Indonesia”.

Depok 11 Juni 2012

Tulisan ini diikutkan lomba blog Paling Indonesia yang diselenggarakan oleh komunitas blogger Anging Mammiri bekerja sama dengan Telkomsel Area Sulampapua (Sulawesi - Maluku - Papua)

Senin, 04 Juni 2012

Bundling Nokia-Indosat Murah Meriah Menguntungkan bagi Wanita

Pakai simcard Mentari sudah aku lakukan sedari bujang, dari jaman ponsel masih hitam putih monophonic layar kecil dan harganya masih mahal. Aku memilih Mentari karena dia pioner yang menggratiskan biaya roaming. Sebagai anak kos yang terkadang saat pulang kampung pun masih ditanya-tanya soal pekerjaan. Selain itu, pakai jaringannya kan luas.

Sampai sekarang saya masih bertahan dengan Mentari. Buat telpon teman-teman sesama mentari puasss... banget. murah siang maupun malam. Kadang sampai kuping panas kelamaan nempel ponsel. Hehehe... Sudah jadi emak-emak yang nota bene always tinggal di rumah pun nggak mau mati gaya ya. Tetap bisa kontak teman-teman baik yang sesama emak tinggal di rumah maupun emak bekerja.

Blackberry-an pun bisa pilih sesuai budget dan kebutuhan, dari harian yang cuma Rp.4.500,-/24 jam, mingguan Rp. 25.000,-/7 hari, dan bulanan Rp.90.000,-/30 hari. Dan yang lebih heboh lagi sampai geleng-geleng kepalaku nih.. lagi promo blackberry full service Rp.90.000,- untuk 3 bulan. gila ya...murahnya... Buat emak-emak yang suka banget ama yang namanya gratis, diskon dan murah meriah tapi berkualitas, jelas bikin ngiler. aih..makin gaul nih. Bisa gaul di facebook, twiteran ampe jempol bengkak, bisa push email, browsing berita-berita terkini.

Dan berita heboh terbaru yaitu paket bundling Indosat Mobile dan Nokia yang berisi Kartu Indosat Mobile dan handset Nokia. Paket Bundling ini hadir untuk wanita Indonesia dengan benefit gratis paket hebat keluarga selama 30 hari dan Layanan Info Wanita dari Indosat. Mana ponsel Nokianya keren lagi. bisa touch bisa juga type. Kayaknya saat ini aku dengan judul emak galau...jauh-jauh dulu deh dari diriku. Meski stay at home mom, tapi masih bisa gaul dan up to date.

Emmm... how about you mom? kalo mo lebih lengkap, bisa cekidot ke sini deh. wokeh?^_^

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes “Ponsel Pintar untuk Perempuan Indonesia” yang diselenggarakan oleh group EmakBlogger.